Geopark Silokek, Bukti Kekayaan Geologis Negeri Lansek Manih
📅 Sabtu, 06 Jan 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Badan pengelola Geopark Ranah Minang Silokek
Nagari Silokek yang telah berstatus geopark memiliki warisan geologi dari tiga era yang berbeda. Berpadu dengan keanekaragaman hayati dan keragaman budaya, tempat ini sangat tepat untuk mengagumi peristiwa geologis di masa lalu.
Pulau Sumatra di sisi baratnya terdapat Sesar Semangko yang membentang dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan ataufaultini membentuk Pegunungan Bukit Barisan sepanjang 1.900 kilometer yang menciptakan bentang alam indah bagi pulau ini.
Salah satu pemandangan geologi unik di sepanjang Sesar Semangko yang dikenal dengan Patahan Besar Sumatra (The Great Sumatran Fault) adalah Geopark Silokek. Kawasan ini memiliki luas 130 ribu hektare yang meliputi dua kecamatan yaitu Sumpur Kudus dan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.
Geopark Silokek merupakan satu dari 66 objek wisata yang dikelola kabupaten yang berjuluk Lansek Manih itu. Perlu diketahui, julukan itu diambil dari lagu Minang berjudul sama dan dipopulerkan oleh Elly Kasim era '50-an.
Dalam lirik lagu yang sangat populer bahkan hingga saat ini disebutKo bukan sumbarang lansek, Sijunjung lanseknyo manihyang artinya bukan sembarang langsat, Sijunjung langsatnya manis. Langsat adalah pohon buah yang tumbuh dengan baik kabupaten ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Asal nama Geopark Silokek karena salah satu areanya berada di Silokek, nama sebuah nagari di Kecamatan Sijunjung dengan luas 1.918 hektare. Silokek berada di ketinggian 200 hingga 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan pepohonan yang rimbun suhunya antara 23-24 derajat Celsius.
Menurut Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) nomor 31 tahun 2021 tentang Penetapan Taman Bumi Nasional disebutkan, geopark adalah sebuah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki situs warisan geologi (geosite) dan bentang alam yang bernilai dan juga terkait aspek warisan geologi (geoheritage), keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity).
Permen ESDM itu juga menyebut geopark dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan pemerintah daerah. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi dan lingkungan sekitarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai salah satu dari 15 geopark nasional yang diakui oleh Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Geopark Silokek memiliki 25 situs keragaman geologi, 12 situs keanekaragaman hayati, dan 17 situs keragaman budaya. Oleh karenanya Geopark Silokek memiliki semua unsur yang harus dimiliki sebuah taman bumi.
Dari sisi geologi, kawasan ini memiliki batuan purba dari masa ratusan juta tahun berwarna abu-abu yang tersingkap. Salah satunya batuan ini terlihat dalam bentuk tebing yang memiliki kemiringan terjal dengan tampilan warna dan tekstur yang unik.
Laman Geopark Silokek menyebutkan, warisan geologinya berupa batuan yang terbentuk pada era Paleozoikum, tepatnya pada periode Permian (299-252 juta tahun lalu) dan Carboniferous (359-299 juta tahun lampau). Jenis batuan dari kedua era adalah berupa batu gamping, serpih, filit, dan bawah.
Bukan hanya itu, batuan dari era Pertengahan dan yang terbentuk di masa Triassic hingga Jurassic berupa metamorf seperti marmer, batu sabak, granit dan lainnya. Kemudian ada dari era Kenozoikum berupa batuan sedimen yang mengendap di darat dan contohnya adalah batu bara yang banyak ditemui di sekitar Ombilin.
Batu bara di Ombilin dengan cadangan 200 juta ton mulai ditambang sejak 1892 setelah diteliti oleh geolog Belanda, Hendrik de Greve, pada 1867. Malangnya ia meninggal pada 22 Oktober 1872 setelah perahu yang dinaikinya terbalik terseret derasnya arus Batang (sungai) Kuantan ketika melanjutkan penelitian batu bara Ombilin.
Di Geopark Silokek, wisatawan dapat menyaksikan morfologi batuan purba dari tebing karst dengan kemiringan landai dan bergelombang pada ketinggian 200-400 mdpl. Sedangkan daerah dengan ketinggian 500-600 mdpl adalah puncak dari kawasan bukit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!