Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenal 3 Keunikan Suku Punan Batu, Memahami Evolusi Manusia dan Pola Migrasi di Kalimantan

📅 Kamis, 07 Des 2023, 15:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mengenal 3 Keunikan Suku Punan Batu, Memahami Evolusi Manusia dan Pola Migrasi di Kalimantan Doc: The Conversation/Pradiptajati Kusuma
Ket. Liang batu karst tempat orang Punan Batu berlindung.

Pradiptajati Kusuma, Mochtar Riady Institute for Nanotechnology

Penelitian terbaru kami, yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Cell Reports, mengungkap sejarah leluhur genetik dan gaya hidup suku Punan Batu di Kalimantan, salah satu kelompok pemburu-pengumpul nomaden aktif yang masih tersisa di dunia.

Mereka hidup di hutan pedalaman Kalimantan, berpindah-pindah dari satu liang/ceruk batu karst dan kamp hutan ke yang lainnya. Mereka mengandalkan sumber daya alam untuk bertahan hidup, seperti berburu binatang liar, mengumpulkan ubi hutan dan buah-buahan, meramu tanaman obat dan memanen madu liar. Bisa dibilang, suku Punan Batu adalah saksi hidup sejarah dan budaya Kalimantan kuno.

Penelitian kami menemukan bahwa suku Punan Batu memiliki beberapa keunikan yang dapat digunakan untuk memahami kompleksitas evolusi manusia, pola migrasi, dan praktik cara hidup yang pernah tersebar luas di hutan Kalimantan.

Apa saja keunikan tersebut?

1. Warisan genetik

Suku Punan Batu memiliki warisan genetik yang berbeda dari kelompok lain di Kalimantan. Analisis genetik kami menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan langsung dari leluhur yang tua di Kalimantan. Mereka memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan sub-kelompok Punan yang lain dalam studi kami (Punan Tubu, dan Punan Aput) dibandingkan dengan kelompok agrikulturalis asli di sekitarnya yang bermata pencaharian petani, seperti Lundayeh.

Artinya, mereka tidak berasal dari populasi agrikulturalis yang mengadopsi kembali cara hidup berburu dan meramu di hutan, seperti yang pernah diperdebatkan oleh para ahli antropologi/arkeologi selama beberapa dekade.

Penelitian kami juga menemukan bahwa suku Punan Batu tidak memiliki pencampuran genetik dari nenek moyang Austronesia, kelompok migran dari Taiwan yang dipercaya membawa budaya agrikultur ke Indonesia, hingga populasi Pasifik dan Madagaskar, mulai sekitar 5,000 - 4,000 tahun yang lalu.

Latar belakang genetik Austronesia berkontribusi besar dalam membentuk keragaman identitas genetik populasi Indonesia secara umum, terlebih pada populasi agrikulturalis asli di Kalimantan. Namun, leluhur Punan diestimasi lebih tua dari itu, paling tidak lebih dari 7,500 tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa suku Punan Batu telah mempertahankan integritas genetiknya dalam jangka waktu yang lama.

Warisan genetik yang unik ini memperkuat bukti bawah suku Punan Batu menjalani pola hidup berburu-meramu yang sudah sangat lama.

2. Bahasa lagu

Suku Punan Batu tidak hanya unik dalam susunan genetiknya, tetapi juga dalam bahasa mereka.

Seperti yang telah kami publikasikan di jurnal Evolutionary Human Sciences pada tahun 2022 lalu, orang Punan Batu melestarikan bahasa lagu (Latala) yang tidak memiliki hubungan secara linguistik dengan bahasa lain di Kalimantan. Bahasa ini, yang diturunkan dari generasi ke generasi, merupakan bagian penting dari identitas budaya mereka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.