Negara-negara yang Janji Atasi Perubahan Iklim Justru Naikkan Penggunaan Bahan Bakar Fosil
📅 Kamis, 09 Nov 2023, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: ANDREJ ISAKOVIC / AFP
LONDON - Laporan tahunan Kesenjangan Produksi Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Environment Programme (Unep), yang diterbitkan pada Rabu (8/11), menggarisbawahi kesenjangan besar antara janji-janji besar para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan lebih tegas terhadap perubahan iklim dan rencana produksi aktual negara mereka.
Dikutip dari The Straits Times, pada 2030, jika proyeksi yang mengamati 20 negara penghasil bahan bakar fosil utama ini benar, Amerika Serikat akan melakukan pengeboran minyak dan gas dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang pernah terjadi dalam sejarahnya. Russia dan Arab Saudi berencana melakukan hal yang sama.
Negara-negara tersebut merupakan salah satu raksasa bahan bakar fosil dunia yang bersama-sama pada dekade ini akan menghasilkan dua kali lipat jumlah bahan bakar fosil dibandingkan ambang batas kritis pemanasan global.
Pada November, para pemimpin akan berkumpul pada pertemuan puncak iklim global di Dubai untuk membahas cara mengurangi emisi yang menyebabkan pemanasan global. Namun, karena adanya penolakan keras dari produsen bahan bakar fosil utama, konferensi iklim sejauh ini enggan membahas penghentian penggunaan bahan bakar fosil.
Emisi dari pembakaran batu bara, minyak dan gas merupakan penyebab utama pemanasan global, yang telah memperparah badai, banjir, gelombang panas, kebakaran hutan, dan kekeringan. Para ilmuwan mengatakan kemungkinan besar 2023 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita tidak bisa mengatasi bencana iklim tanpa mengatasi akar penyebabnya yaitu ketergantungan bahan bakar fosil," kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
"Emisi bahan bakar fosil telah menyebabkan kekacauan iklim, yang menghancurkan kehidupan dan penghidupan. Namun, pemerintah benar-benar menggandakan produksi bahan bakar fosil," katanya.
Batasi Kenaikan Suhu
Sebaiknya Anda baca juga:
Hampir setiap negara menandatangani Perjanjian Paris pada 2015, pakta iklim global yang bertujuan membatasi kenaikan suhu rata-rata global jauh di bawah 2 derajat Celsius, dan idealnya tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius, dibandingkan dengan tingkat pra-industri.
Selama dekade terakhir, pemerintah dan dunia usaha telah mencapai kemajuan dalam mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, misalnya dengan meningkatkan tenaga angin dan surya, serta berinvestasi pada infrastruktur kendaraan listrik.
Namun, laporan yang dipimpin para peneliti di Stockholm Environment Institute itu menemukan negara-negara berencana untuk terus meningkatkan produksi batu bara hingga 2030, dan produksi minyak dan gas selama beberapa dekade setelahnya.
"Hal ini berarti dunia masih berada pada jalur produksi minyak, gas, dan batu bara sebesar 110 persen lebih banyak pada 2030, sesuai dengan jumlah yang diperbolehkan jika pemerintah ingin membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius," kata para peneliti memperingatkan.
Dunia diperkirakan akan melampaui jumlah bahan bakar fosil sebesar 69 persen untuk membatasi pemanasan hingga 2 derajat Celsius.
Di luar ambang batas tersebut, dunia menghadapi bahaya kerusakan permanen dan bencana akibat perubahan iklim. Suhu bumi telah mencapai rata-rata 1,2 derajat Celsius dibandingkan suhu pada masa pra-industri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!