El Nino Belum Berakhir, Kekeringan dan Kebakaran Berisiko Makin Parah Tahun Depan
📅 Kamis, 09 Nov 2023, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Muhammad Iqbal
Erma Yulihastin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
El Nino yang dimulai pada Juni 2023 membuat cuaca di banyak wilayah Indonesia lebih kering dan mengalami panas menyiksa.
Sejak beberapa bulan lalu, beberapa pihak memprediksi puncak El Nino terjadi pada Agustus-September, dengan intensitas yang lemah-moderat. Ada juga yang menaksir fenomena anomali cuaca ini memuncak pada Oktober, lalu kemudian menurun.
Walau begitu, dengan pengalaman meneliti El Nino lebih dari 15 tahun, saya menyaksikan bagaimana pergerakan El Nino, termasuk puncaknya, semakin sulit diprediksi.
Misalnya, pada 2015 silam, banyak ilmuwan meramalkan El Nino yang terjadi saat itu hanya berlangsung lemah, alias pemanasannya rata-rata per bulan tak melebihi 1,5°C dibandingkan kondisi non-El Nino. Durasinya pun tak melebihi sembilan bulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nyatanya, El Nino 2015 berlangsung kuat dengan pemanasan tertingginya mencapai 3°C. Durasinya pun dua kali lipat lebih panjang dari El Nino lemah, yakni 18 bulan.
Dampaknya luar biasa. El Nino saat itu menyebabkan suhu bumi mencetak rekor terpanasnya. Kebakaran hutan dan lahan menggila, mencapai 2,6 juta ha dengan angka kematian dini akibat paparan asap mencapai 100 ribu jiwa.
Lantas, bagaimana dengan El Nino tahun ini? Berdasarkan pengamatan saya, El Nino 2023 memiliki perilaku senada dengan El Nino kuat pada 2015-2016 dan 1997-1998.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indonesia harus mewaspadai risiko ini. Maraknya kekeringan dan kebakaran hutan tahun ini kemungkinan bakal lebih parah lagi saat El Nino mencapai puncaknya pada 2024.
El Nino akan menguat pada 2024
Pada mulanya, El Nino memanaskan suhu permukaan laut dari Samudra Pasifik sebelah timur, dekat Peru. Panas lalu membesar dan menjalar ke arah barat sampai perairan selatan Hawai, hingga kepulauan di Pasifik barat dekat pulau Papua.
Per 29 Oktober lalu, Biro Meteorologi Australia mencatat pemanasan rata-rata bulanan di sekitar titik pantau El Nino di perairan di selatan Hawai (dikenal dengan area Nino 3.4) baru mencapai 1,66°C.
Pemanasan tersebut berpotensi tinggi menguat sampai tahun depan. Pasalnya, pemanasan parah El Nino 2023 baru berada di dekat Peru (area Nino 2) sebesar 2,42°C di atas normal. Butuh waktu setidaknya dua bulan hingga panas tersebut menyebar ke titik pantau Nino 3.4.
Karena itulah, per 21 Oktober 2023, Biro Meteorologi Australia menaksir puncak El Nino baru terjadi tiga bulan lagi, yakni Januari 2024. Saat itu, suhu terpanas permukaan rata-rata bulanan dapat mencapai 2,7°C di atas normal di area Nino 3.4.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!