Cara Masyarakat Pesisir ‘Melawan’ Pemanasan Laut: Memulihkan Karang
📅 Minggu, 05 Nov 2023, 13:34 WIB | Oleh: Tim PenulisGili Matra adalah salah satu lokasi yang diprediksi terkena pemutihan parah tahunan paling awal, yaitu 2026.
Pemulihan di tengah pemanasan
Pemanasan laut akibat perubahan iklim amat memengaruhi hewan karang, apalagi yang masih kecil seperti yang tumbuh di lokasi restorasi.
Cakra menceritakan pada Juni lalu, dia mendapati terumbu karang di salah satu titik restorasi mati karena penyakit skeletal eroding band. Penyakit ini memiliki gejala karang memutih lalu disertai bintik-bintik hitam--diduga akibat tak tahan panas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat itu, menurut Cakra, suhu rata-rata bulanan di perairan Gili matra mencapai 30°C atau lebih tinggi dari suhu rata-rata sekitar 28°C.
"Jadi dia (karang) stres dulu karena suhu terus dia kena penyakit," tutur Cakra.
Para peneliti Yayasan Gili Matra pun memutar otak. Hingga terpikirlah satu solusi yakni pemindahan terumbu buatan ke lokasi yang lebih dalam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Cara ini dianggap Cakra dapat dilakukan karena timnya mengamati karang yang sakit berada di perairan dangkal, sekitar lima meter di bawah permukaan laut. Lokasi ini lebih banyak menerima panas matahari.
Sementara itu, karang di tempat yang lebih dalam (sepuluh meter di bawah permukaan) cenderung sehat. Cakra menduga ini terjadi karena lokasi tersebut menerima panas matahari lebih sedikit.
Pakar terumbu karang dari Universitas Mataram, Imam Bachtiar, mengapresiasi maraknya usaha masyarakat di kawasan Gili Matra untuk memulihkan karang. Namun dia mengingatkan, usaha restorasi kebanyakan menggunakan terumbu karang berjenis acropora yang cepat bertumbuh. Kelemahannya, jenis ini sangat rentan terhadap panas.
Gili Matra juga ditinggali jenis karang yang tahan panas seperti Montipora dan Stylophora. Namun, Imam mengatakan keduanya merupakan spesies yang pertumbuhannya lambat, sehingga kurang cocok untuk proyek restorasi.
"Kalau bleaching tahunan, karang (yang dipulihkan) tidak sempat tumbuh, Kita tidak bisa transplantasi. Akan mati semua. Satu-satunya cara adalah mencari galur karang tahan panas," ujar Imam.
Alternatif sumber rezeki
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!