Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Cara Masyarakat Pesisir ‘Melawan’ Pemanasan Laut: Memulihkan Karang

📅 Minggu, 05 Nov 2023, 13:34 WIB | Oleh: Tim Penulis
Cara Masyarakat Pesisir ‘Melawan’ Pemanasan Laut: Memulihkan Karang Doc: The Conversation/Shutterstock
Ket. Ilustrai restorasi karang.

Robby Irfany Maqoma, The Conversation

Tulisan ini adalah bagian kedua dari serial peliputan mendalam berbasis sains yang didukung hibah Environmental Reporting from Asia-Pacific Island Countries oleh Internews' Earth Journalism Network. Bagian pertama dapat dibaca di sini.

Sukding, penghuni kawasan konservasi perairan Gili Matra mengisahkan kenangan pahitnya merusak terumbu karang di perairan dangkal sebelah timur Gili Air-satu dari tiga pulau Gili Matra di Nusa Tenggara Barat. Saat itu, dia-yang masih kecil dan belum memahami manfaat terumbu karang-diajak sang ayah untuk merintis budi daya rumput laut.

Alih-alih meraup cuan, usaha Sukding dan ayahnya gagal total. Terumbu karang di tempat yang dirusaknya juga tak pernah tumbuh lagi, sehingga area tersebut sepi dari ikan-ikan.

Yang tinggal adalah penyesalan. Semakin ke sini, Sukding menyadari bahwa kehidupan masyarakat Gili Matra sangat tergantung dengan ekosistem karang yang sehat. Apalagi kawasan ini juga kondang dengan keelokan terumbu karangnya.

Saat puncak musim liburan (Juli-Oktober), kawasan ini dipadati wisatawan sampai seribu orang per hari. Kebanyakan dari mereka datang untuk menikmati keindahan terumbu karang Gili Matra dengan snorkelling ataupun diving. Sekitar 52% dari penduduk, berdasarkan data Desa Gili Indah 2019 (tidak dipublikasi), bergantung pada sektor pariwisata yang meliputi hotel, restoran, toko, hingga jasa tur.

Situasi kini berbalik. Sukding aktif terlibat dalam berbagai aktivitas pemulihan terumbu karang di Gili Matra. Bersama belasan warga, Sukding beberapa kali membuat terumbu buatan, sampai menyelam untuk memasang terumbu tersebut di kedalaman laut. "Saya juga menjaga agar aktivitas saya dan teman-teman di sini tidak menghancurkan karang," ujar Sukding, nelayan sekaligus pelaku jasa pariwisata yang kini berusia 42 tahun.

Beberapa tahun belakangan, kawasan Gili Matra diramaikan dengan aksi restorasi ekosistem terumbu karang yang berbasis masyarakat. Misalnya, pemulihan karang dengan penanaman karang sehat langsung di ekosistem karang alami oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Gili Matra. Ada juga kelompok Yayasan Gili Matra bersama, organisasi lokal yang didedikasikan untuk penelitian konservasi perairan di Gili Matra.

The Conversation Indonesia pun berkesempatan mengamati salah satu lokasi restorasi di sebelah timur Gili Matra oleh Yayasan Gili Matra Bersama. Di kedalaman lima meter di bawah permukaan laut, kami menyelam untuk melihat fasilitas nursery alias pembibitan berupa empat tiang besi yang terikat di atas pemberat. Selayak pohon, masing-masing tiang memiliki dua hingga tiga 'dahan' dengan potongan karang-karang kecil yang tergantung nan berjajar rapi.

Tak jauh dari situ, tampak pula beberapa terumbu buatan berbentuk rangka baja segi enam dan persegi panjang yang dipadati karang berukuran lebih besar. Kami juga melihat terumbu tersebut dipadati karang-karang berbentuk panjang seperti jari. Ada pula yang melebar seperti telapak tangan.

Direktur Yayasan, Cakra Adiwijaya, mengatakan pekerjaan restorasi oleh lembaganya dimulai pada tahun 2021. Mereka menggunakan spesies karang sehat jenis Acropora-terkenal dengan pertumbuhannya yang pesat untuk memulihkan ekosistem karang. Sepekan sekali, mereka rutin membersihkan karang sembari mengumpulkan data spesies lain di sekitarnya, seperti ikan kerapu, penyu sisik, dan hiu sirip putih.

"Seminggu sekali kami melakukan penyelaman untuk menjaga proyek kami dan melakukan survei. Kami perlu memastikan pertumbuhan karang kami sehingga dapat memperkaya ekosistem karang di Gili Matra," kata Direktur Yayasan, Cakra Adiwijaya, dalam wawancara kepada The Conversation Indonesia, Agustus lalu.

Cakra mengatakan, usaha restorasi banyak dilakukan warga karena kesehatan dan luas tutupan karang di Gili Matra semakin menurun. Tiga kejadian pemutihan karang massal karena pemanasan suhu laut pada 1998, 2010, dan 2016 membuat luas karang di kawasan konservasi ini menyusut hingga tinggal 247 ha. Tekanan juga bertambah karena pariwisata massal yang berlangsung di Gili Matra sejak dekade 1990-an.

Walau begitu, usaha pemulihan karang yang dilakukannya berkejaran dengan waktu. Riset terbaru oleh tim yang dipimpin peneliti dari University of Edinburgh, Laurence De Clippele, mengungkapkan perubahan iklim dapat mengakibatkan pemutihan karang parah (annual severe bleaching) di 111 dari total 196 kawasan konservasi laut di Indonesia setiap tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.