Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Produktivitas Daerah Sentra Pangan di Indonesia Harus Dijaga

📅 Jumat, 03 Nov 2023, 00:00 WIB | Oleh:
Produktivitas Daerah Sentra Pangan di Indonesia Harus Dijaga Doc: ANTARA/HENRY PURBA
Ket. Pekerja menjahit karung beras di gudang Bulog Pasirhalang, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (31/10). Daerah-daerah yang merupakan sentra produksi pangan harus dijaga produktivitasnya

SEMARANG - Daerah-daerah yang merupakan sentra produksi pangan harus dijaga produktivitasnya. Pada November hingga Desember 2023, wilayah Indonesia sudah akan memasuki musim hujan. Oleh karena itu, perlu segera dipersiapkan, mulai dari benih, pupuk, hingga irigasi.

"Dalam upaya membangun ekosistem pangan, maka daerah-daerah sentra produksi harus dijaga produktivitasnya," kata Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, di Semarang, Kamis (2/11).

Seperti dikutip dari Antara, Arief mengatakan produksi tersebut, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Perum Bulog, pada tahun ini memperoleh penugasan penyediaan dua juta ton beras untuk mengamankan stok nasional.

Jumlah tersebut masih dirambah lagi 1,5 juta ton sehingga total penugasan untuk Bulog mencapai 3,5 juta ton.

Sementara itu, Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, berkomitmen untuk terus melakukan langkah-langkah menjaga ketahanan pangan. "November ini sudah mulai hujan, sehingga bisa mulai bercocok tanam agar ketahanan pangan semakin baik," katanya.

Lumbung Pangan

Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut Indonesia harus mampu swasembada pangan bahkan menyiapkan diri untuk menjadi lumbung pangan bagi dunia karena Indonesia memiliki 10 juta ha lahan potensial yang belum tergarap maksimal.

"Ada 10 juta hektare lahan berupa rawa yang bisa kita sulap menjadi lahan produktif. Kalau kita bisa tambahkan itu, Indonesia bahkan bisa menjadi lumbung pangan dunia," kata Mentan.

Amran menuturkan dunia saat ini tengah dihadapkan pada krisis pangan akibat kondisi geopolitik dunia dan dampak perubahan iklim. Setiap negara fokus untuk menyediakan kebutuhannya masing-masing sehingga persaingan ketat untuk mengimpor dari negara sentra produksi.

Untuk bisa swasembada, pertanian Indonesia perlu beralih dari cara tradisional menjadi modern. Amran menyebutkan modernisasi bisa dilakukan bila petani mampu memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang tepat guna.

"Kita tidak akan bisa memanfaatkan 10 juta hektare lahan tadi kalau kita hanya menggunakan cara-cara tradisional. Karena itu, kita perlu masifkan penggunaan alsintan. Traktor, drone untuk menebar benih, transplanter, dan alsintan lainnya harus kita gunakan untuk tingkatkan produktivitas ," ujarnya.

Kendati demikian, lanjutnya, swasembada membutuhkan kebijakan yang tepat. Bila penanganannya salah maka akibatnya akan fatal. "Pertanian Indonesia tidak akan maju bila kita menggunakan cara-cara yang tidak biasa. Sehingga banyak peraturan yang harus kita bongkar agar semua pelaku pertanian bisa bergerak lebih cepat," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.