Menelusuri Jejak Peradaban Megalitikum di Kampung Bena
📅 Sabtu, 28 Okt 2023, 05:31 WIB | Oleh: Haryo BronoKampung yang dihuni oleh sembilan klan masing-masing memiliki rumah keluarga inti (Sao Meze) yang memiliki filosofi sendiri tentang rumah tinggal. Setiap rumah besar mempunyai rumah pendukung yang disebut kaka pu'u dhai pu'u, kaka lobo, dan dhai lobo.
Untuk nenek moyang perempuan yang disebut sao saka pu'u memiliki tanda miniatur bhaga di atas atap. Setiap tanda di tepi atapnya terpasang tusuk rambut terbuat dari bambu dengan kelapa muda berukuran kecil sebagai pangkalnya yang disebut ana ie.
Selanjutnya untuk rumah inti nenek moyang laki-laki dinamakan sa'o saka lobo. Rumah ini dapat diidentifikasi dengan adanya patung pria berbalut ijuk yang memegang parang dan tombak yang terpasang di atas rumah.
Kearifan Lokal
Sebaiknya Anda baca juga:
Penduduk Kampung Bena termasuk ke dalam Suku Bajawa. Mayoritas penduduk Bena adalah penganut agama Katolik. Umumnya penduduk Bena, pria dan perempuan, bermata pencaharian sebagai peladang. Untuk kaum perempuan masih ditambah dengan bertenun.
Pada awalnya hanya ada satu klan atau sekelompok keluarga di kampung ini yaitu klan Bena. Perkawinan dengan klan lain melahirkan klan-klan baru yang sekarang ini membentuk keseluruhan penduduk Kampung Bena. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat di sini menganut sistem kekerabatan matriarki.
Jumlah klan kini mencapai 9 klan terdiri dari Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, dan Ago. Pembeda antara klan dengan klan lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah dan setiap satu klan berada dalam satu tingkat ketinggian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski teknologi telah berkembang Kampung Bena hanya menerapkannya energi listrik secara terbatas misalnya untuk penerangan. Hingga kini pola kehidupan serta budaya masyarakatnya tidak banyak berubah. Mereka masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Itulah mengapa arsitektur bangunan Kampung Bena dibangun dengan memperhatikan fungsi dan makna yang mendalam. Masing-masing mengandung kearifan lokal dan masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dengan pengelolaan lingkungan yang ramah lingkungan. Bukti masyarakat tidak mengeksploitasi lingkungannya bisa dilihat dengan membiarkan kontur tanah seperti asli yang berbukit-bukit.
Pada 1995 Kampung Bena telah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Kini kampung ini sudah masuk dalam daerah tujuan wisata andalan Kabupaten Ngada. Pengunjungnya terutama wisatawan asing yang tertarik dengan wisata budaya. Kebanyakan mereka berasal dari Eropa terutama dari Jerman dan Italia, yang bertanya tentang seluk beluk kampung ini secara mendalam ke pemandu wisata.
Selain melihat bangunan dari masa pra sejarah atau per tulisan, bisa dijumpai kerajinan hasil karya perempuan Kampung Bena yaitu kain tenun ikat. Para perempuan di kampung itu harus bisa menenun, dan kemampuan itu sudah diasak sejak kecil. "Kami (perempuan) di Bena harus tahu menenun sejak kecil," kata Tina Bebhe, 38 tahun, yang dengan ramah menjawab pertanyaan pengunjung kampung tersebut, dikutip dari Antara.
Kain tenun ikat dengan corak beraneka ragam dijual pada kisaran harga kisaran harga 300 ribu rupiah. Namun ada versi lebih mudah dengan ukuran lebih kecil dengan kisaran harga antara harga 75.000-100.000 rupiah.
Informasi yang diperoleh dari Pusat Informasi Pariwisata Kampung Adat Bena, ragam motif tenun ikat yang dihasilkan para perempuan adalah motif jara (kuda), wa'i manu (cakar ayam), ghi'u (garis dinamis), ube, nga'dhu, dan bhaga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!