Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menelusuri Jejak Peradaban Megalitikum di Kampung Bena

📅 Sabtu, 28 Okt 2023, 05:31 WIB | Oleh:
Menelusuri Jejak Peradaban Megalitikum di Kampung Bena Doc: ISTIMEWA/KEMDIKBUD
Ket. Potret Desa Kampung Bena

Kampung Bena di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, berada pada ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Letaknya berada di punggung Gunung Inerie yang puncaknya berada di ketinggian 2.245 mdpl.

Lokasinya berada di utara Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada dengan jarak 5,2 kilometer. Sedangkan jarak Bajawa dengan puncak Gunung Inerie mencapai 5,2 kilometer. Bajawa sendiri dikenal sebagai kota dengan suhu yang dingin karena berada pada ketinggian lebih dari 1.300 mdpl.

Menurut laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kampung Bena merupakan salah satu perkampungan dari zaman megalitikum atau batu besar. Keberadaannya diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu.

Menurut Von Heine Geldern, zaman megalitikum di Indonesia tersebar melalui dua gelombang yang berbeda. Pertama Megalitik Tua yang menyebar ke Indonesia pada zaman Neolitikum antara 2500 hingga 1500 SM dan dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi atau Proto Melayu.

Sedangkan gelombang berikutnya atau era Megalitikum Muda, menyebar ke Indonesia pada zaman Perunggu antara 1000 SM hingga 1 Masehi. Kebudayaan ini dan dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson atau Deutro Melayu.

Periode inilah saat manusia menggunakan batu berukuran besar sebagai pondasi dari bangunan hingga tempat beribadah kepada arwah nenek moyang. Tradisi kebudayaan ini terlihat dari bangunan batu-batu besar seperti dolmen, kubur batu, sarkofagus, punden berundak, menhir, arca, dan patung.

Masyarakat Kampung Bena mempercayai dan memuja gunung sebagai tempatnya para dewa. Mereka meyakini bahwa keberadaan Dewa Yeta yang bersinggasana di Gunung Inerie yang akan melindungi kampung mereka dari bencana.

Letak Kampung Bena berada di puncak bukit merupakan sebuah ciri khas bangunan masa lalu yang memanfaatkan tanah yang tinggi untuk mendekatkan diri dengan penguasa alam. Pintu masuk perkampungan ini hanya satu yaitu dari sisi utara, sementara sisi selatan berupa tebing terjal menuju lembah.

Kampung ini memiliki 45 buah rumah tradisional yang berjajar berhadap-hadapan membentuk semacam perahu memanjang dari utara ke selatan. Susunan ini menurut kepercayaan yang berlaku, memiliki kaitan sebagai wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya yang abadi.

Rumah-rumah ini memiliki bentuk atap limas. Bahan atapnya adalah daun alang-alang yang dianyam sedemikian rupa. Di dalam setiap rumah terdiri dari tiga bagian yaitu lewu sebagai tiang penunjang yang ditanam ke tanah, sao untuk bagian lantai dan dinding, serta iru untuk bagian atap.

Area rumah terbagi menjadi tiga tingkatan yakni teda moa yang digunakan untuk situasi santai seperti perempuan menenun sambil menjaga anak kecil. Lalu masuk ke dalam ada area teda one yang diperuntukkan untuk menerima tamu atau dalam situasi resmi. Terakhir ada one sao atau bagian paling dalam. One sao dilengkapi plat kayu di pintu masuk yang dinamakan kabapere dengan beberapa ukiran motif seperti kepala kerbau dan sawa di sisi kanan kiri dan bawah mengapit pintu masuk yang berukuran kecil.

Ketika masuk ke one sao, ada sikap menunduk sebagai tanda hormat kepada mataraga, yakni media sakral yang dianggap penghubung maha kuasa dengan manusia yang hidup di dalam rumah. Area one sao digunakan sebagai dapur dan tempat tidur bagi keluarga di rumah tersebut.

Di lapangan kecil terbuka tengah-tengah kampung, terdapat sebuah bangunan dari kayu dengan nama nga'dhu dan bhaga. Keduanya merupakan simbol leluhur kampung yang berada di halaman, dan kisanatapat, tempat upacara adat digelar untuk berkomunikasi dengan leluhur.

Nga'dhu berarti simbol nenek moyang laki-laki dan bentuknya menyerupai sebuah payung dengan bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk, hingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang nga'dhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat. Sedangkan bhaga berarti simbol nenek moyang perempuan yang bentuknya menyerupai bentuk miniatur rumah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

47 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.