Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perempuan Kurang Terwakili di Startup Indonesia, Apa Masalahnya?

📅 Senin, 23 Okt 2023, 14:09 WIB | Oleh: Tim Penulis
Perempuan Kurang Terwakili di Startup Indonesia, Apa Masalahnya? Doc: The Conversation/Shutterstock/Metamorworks
Ket. Perempuan masih dipandang sebelah mata dalam sektor teknologi.

Nita Yalina, University of Leeds

Keberagaman gender merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan inovasi. Berbagai studi selama beberapa tahun ke belakang menunjukkan bahwa keberagaman gender dapat membantu organisasi mendapatkan berbagai perspektif dalam pemecahan masalah, peningkatan akses sumber daya dan jejaring yang lebih beragam, serta peningkatan produktivitas.

Sayangnya, beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan, dalam proses inovasi, peran perempuan masih belum dianggap signifikan. Terlebih dalam startup yang erat kaitannya dengan industri teknologi, sektor yang hingga kini masih dikuasai laki-laki.

Hal yang sama pun terjadi di Indonesia. Menurut situs Startup Ranking, Indonesia menempati posisi 10 besar produsen perusahaan rintisan terbesar di dunia. Namun, meski menunjukkan ekosistem kewirausahaan yang cukup mumpuni, hasil wawancara penulis dengan perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementeriam Komunikasi dan Informatika, mengindikasikan bahwa jumlah startup yang melibatkan perempuan dalam tim pendiri masih kurang dari 30%.

Riset kualitatif yang penulis lakukan sepanjang 2022-2023 terhadap lima startup serta wawancara dengan beberapa tenaga ahli yang mewakili beberapa pihak eksternal seperti pengamat gender, investor, program inkubasi, dan kementerian, menemukan beberapa hambatan, peluang keuntungan, dan tantangan dalam mencapai keberagaman gender dalam perusahaan rintisan di Indonesia.

Hambatan keberagaman gender dalam startup

Beberapa startup yang terlibat dalam penelitian ini sebenarnya sedang menggagas ide dan menerapkan keberagaman gender dalam tim mereka. Selain menjadi salah satu usaha mereka memenuhi tuntutan global, sebagian kecil dari mereka telah merasakan manfaat keberagaman gender secara langsung.

Yang menjadi persoalan, aspek keberagaman tidak lantas mudah diterapkan. Terdapat beberapa hambatan yang dialami ketika perusahaan-perusahaan tersebut menginginkan keberagaman dalam tim mereka:

    1. Proporsi pelamar tidak berimbang. Salah satu startup mengakui kesulitannya menemukan kandidat yang beragam. Contohnya, salah satu responden yang bertanggung jawab dalam proses perekrutan menyatakan bahwa ketika menginginkan programmer perempuan, pelamar laki-laki masih mendominasi lowongan tersebut sekalipun iklannya tidak mencantumkan kriteria gender di dalamnya.

    2. Sumber daya manusia yang kurang mumpuni. Sekalipun terdapat kandidat perempuan, pada tahapan seleksi lebih lanjut, kapabilitas mereka--terutama di bidang teknologi--masih di bawah laki-laki. Kendala lain, ketika kandidat perempuan sudah diterima, sebagian besar menolak tawaran dengan alasan tidak mendapatkan restu orang tua untuk pindah ke luar kota.

    3. Bias spesifik/stereotip gender. Salah satu manajer bidang sumber daya manusia yang menjadi responden dalam penelitian ini mengatakan beberapa posisi masih dilihat sebagai pekerjaan laki-laki dan dianggap tidak cocok untuk perempuan. Sekalipun pada akhirnya mereka berhasil membuktikan dengan menempatkan perempuan di posisi penting seperti manajer operasional dan programmer, prosesnya membutuhkan perubahan mindset dalam organisasi yang tak mudah dilakukan.

    4. Kurangnya ketahanan dan tingginya turnover. Sulit mempertahankan keberagaman gender karena komposisi tim dalam startup sering mengalami perubahan. Perusahaan rintisan memang memiliki tingkat turnover (pergantian keluar masuk karyawan) yang cukup tinggi karena kurangnya ketahanan terhadap tuntutan kerja yang tinggi, terutama bagi perempuan yang memiliki peran ganda sebagai istri atau ibu.

Potensi keuntungan ketika memiliki tim majemuk gender

Startup yang telah memiliki tim yang beragam gender mengakui beberapa benefit yang mereka dapatkan antara lain:

  • Balanced thinking atau pemikiran berimbang. Keberagaman gender dapat meningkatkan keseimbangan berpikir dalam tim. Sebab, ada perbedaan perspektif yang biasanya dimiliki oleh laki-laki dan perempuan yang terkadang bahkan saling bertolak belakang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

49 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Nasional
Tanggapan Istana Usai Wamen...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.