Industri Nasional Rapuh, Lebih Mengikuti UMR Murah, Bukan Daya Beli Masyarakat
📅 Rabu, 18 Okt 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiTidak Punya Daya Tawar
Dengan kondisi yang seperti itu, negara lain lanjutnya, tidak perlu perang dengan Indonesia, cukup tombol satu knop, kita sudah kalang kabut. Tidak perlu perang dengan RI untuk taklukkan RI. Kita tidak punya bargaining power di dunia internasional, hanya mengemis kiri kanan.
Sebab itu, tanpa perubahan paradigma atau perubahan haluan yang kuat untuk membangun pertanian nasional dsn industri produktif, pemberdayaan keuangan negara yang efisien untuk sektor riiil, bukan untuk konsumtif maka RI sulit melepaskan diri dari mental pedagang dan calo. Indonesia akan terjepit dalam kondisi kehilangan opsi di masa mendatang. Karena, di sektor apapun pergerakannya tertutup dan tertinggal.
"Bagaimana bisa bersaing dengan negara-negara yang surplus. Untuk makan saja harus impor, untuk bayar utang harus utang baru. Untuk tutup kredit macet dibuat kebijakan bunga yang tidak adil. Masa biaya uang dollar di AS sama dengan biaya di sini. Dengan spread margin 100 persen itu kan untuk menutup potensi kredit macet," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kalau OJK tidak mengeluarkan aturan dividen seperti kemarin maka bank pasti akan membagi semua keuntungannya dan tidak ada lagi cadangan. Sementara itu, pinjaman online (Pinjol) dibiarkan.
Pendapatan pajak pun terus menurun terus, karena kondisi ekonomi yang sangat menurun.
Jika Tidak ada lagi kebangkitan nasional untuk perubahan paradigma, Indonesia akan semakin sulit ke depan. Sebab itu, jangan mau dibodohi lembaga internasional yang memberi harapan palsu.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita dipuji lembaga internasional supaya kita mengutang lebih banyak untuk menutupi utang sebelumnya. Akhirnya satu negara milik mereka. Kalau kita ditagih utang, suruh bayar utang, kita kalang kabut. Bayar pakai apa? Mau jual pulau? Jangan bilang tidak menjual kedaulatan, karena yang dilakukan pejabat saat ini ya menjual kedaulatan secara perlahan, sedikit demi sedikit. Kita meminta dan mengemis untuk beli pangan. Mereka yang menjual merasa membantu dan yang membeli merasa mengemis. Itu kan sudah menjual secara menyicil," kata Aditya.
Uang Menguap
Padahal, kalau anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan APBD, ditambah intermediasi bank dikerahkan untuk sektor riil, maka akan menjadi sumber nafkah bagi rakyat. Masalahnya, tidak diarahkan ke sana, semua untuk oligarki yang selalu mencari jalan sebagai pedagang. Kalau pedagang, mereka tidak memutar uang dengan cepat karena dihabiskan untuk konsumsi. Akibatnya, semua uang lenyap.
"Kalau APBN dan APBD dan intermediasi tidak di arah kan ke sektor produktif dan sektor riil maka uang akan menguap, karena konsumtif dan sebagian besar habis untuk bayar biaya impor. Itu masalah utama," katanya.
Sebagai solusi, para Menteri Koordinator dan pemimpin bangsa harus segera banting setir arah pembangunan ekokomi dan keuangan agar terhindar dari resesi hebat.
"Percuma menahan pembelian online dan tiktok shop, kalau tidak membangun penggantinya di dalam negeri. Kalau barang yang dibutuhkan rakyat tidak dibangun, rakyat tidak belanja dan akhirnya tidak ada perputaran uang. Apakah mungkin membendung barang impor murah? Mustahil. Caranya ya produksi sendiri. Belanja online ditutup semua ya percuma. Percuma kalau dalam negeri tidak membangun. Kenapa tidak membangun? Mustahil bersaing dengan negara-negara yang menciptakan ekonomi biaya murah, sementara kita adalah negara ekonomi biaya tinggi akibat dipersulit aparat sendiri," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!