Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kuno Pengaruh Makedonia Bagi Kejayaan Sejarah Yunani

📅 Jumat, 13 Okt 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Kuno Pengaruh Makedonia Bagi Kejayaan Sejarah Yunani Doc: AFP/ Robert ATANASOVSKI

Yunani memiliki tetangga di utara yang bernama Makedonia yang masyarakatnya dianggap barbar dan memiliki peradaban. Namun semua ini berubah di bawah pemerintahan Raja Phillip II yang berhasil menguasai Yunani ke bawah kendalinya.

Makedonia adalah sebuah kerajaan kuno yang terletak di utara Semenanjung Yunani. Wilayah ini pertama kali dihuni oleh suku Mackednoi yang menurut Herodotus adalah orang pertama yang menyebut diri mereka "Hellenes". Nama ini kemudian diterapkan pada semua orang Yunani dan memberi nama pada tanah tersebut.

Kerajaan Makedonia didirikan pada abad ke-7 sebelum masehi (SM) oleh Caranas meski hal ini berbau mitos. Apalagi nama ini dinamai menurut nama dewa Makedon (juga disebut Makednos, Makedonia), putra Zeus.

Sebelumnya selama berabad-abad, suku Mackednoi tidak berhubungan dengan Yunani bagian selatan. Sementara orang Yunani menganggap mereka orang barbar yang hanya dibutuhkan karena memiliki bahan mentah berupa kayu untuk pembuatan kapal. Makedonia juga memandang rendah orang-orang Yunani.

Selama invasi Persia pada 480 SM, Makedonia berada di bawah kekuasaan Persia dan sebagian memasok pasukan untuk tentara penyerang. Partisipasi mereka di pihak Persia tampaknya tidak memperburuk hubungan yang sudah buruk antara Makedonia dan Yunani selatan.

Menyusul kemenangan Yunani dan pengusiran Persia, Makedonia memilih untuk tetap menjauhkan diri dari wilayah Yunani lainnya. Pertengkaran serta pertempuran yang terus-menerus terjadi antara negara-negara kota Yunani dan negara-negara selatan juga melakukan hal yang sama dengan Makedonia.

Para sarjana pada umumnya menyimpulkan bahwa, apa pun kebangsaan orang Makedonia, mereka tidak dianggap sebagai orang Yunani oleh warga negara-negara kota di sebelah selatan. Namun semua ini berubah di bawah pemerintahan Raja Phillip II (memerintah 359-336 SM) yang berhasil menguasai negara-negara kota di bagian selatan Yunani ke bawah kendalinya.

Setelah terbunuhnya Philip pada 336 SM, takhta kerajaan diserahkan kepada putranya, Alexander Agung (memerintah 336-323 SM). Ia kemudian menyebarkan budaya dan peradaban Yunani ke seluruh dunia kuno di sekitarnya. Namun setelah kematian Alexander pada 323 SM, orang Yunani kembali membenci Makedonia.

Banyak orang Yunani yang membenci pemerintahan Makedonia karena sikap antagonisme yang sangat kejam terhadap segala hal, bahkan terhadap orang-orang Makedonia sekalipun. Setelah itu Makedonia tetap menjadi kerajaan yang otonom dan berkuasa hingga dianeksasi oleh Roma, bersama dengan wilayah Yunani lainnya, sekitar 146 SM.

Pada awal abad ke-7 SM, orang-orang Makedonia, di bawah raja mereka Caranus, menetap di bagian tengah wilayah tersebut. Seiring berjalannya waktu, menjajah ke utara dan selatan, mengusir orang-orang Tesalia dan Iliria yang pernah tinggal di sana.

Sebelum kedatangan mereka, tanah tersebut dikenal sebagai Emathia menurut sejarawan Homer dan Strabo, namun para pendatang baru mengklaim dan menamainya sesuai dengan dewa pelindung mereka. Makedon disebutkan dalam Katalog Perempuan Hesiod pada abad ke-8 SM sebagai bagian dari jajaran dewa Yunani.

Sarjana Winthrop Lindsay Adams dalam buku Alexander the Great: Legacy of a Conqueror (2004) menulis, "Legenda pendirian mereka menyatakan bahwa mereka adalah keturunan putra Zeus, Makedon, yang kemudian memiliki dua putra, Pieros dan Amathos. Semua ini memberikan sejarah pada istilah geografis dan etnis yang sudah ada."

"Mereka berbicara dengan dialek yang disebut Makednic, yang secara samar-samar berhubungan dengan bahasa Aeolic atau bahasa Yunani barat laut, namun cukup berbeda sehingga praktis tidak dapat dipahami oleh orang-orang Yunani yang berbahasa Ionic dan Doric di selatan," imbuh Adams.

Namun, bahasa bukanlah satu-satunya penghalang antara wilayah utara dan selatan, karena Herodotus (484-425 M) menemukan bahwa orang Makedonia adalah orang Yunani dan, pada saat yang sama, mengisyaratkan bahwa mereka bukan orang Yunani yang menyembah dewa-dewa Yunani.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
  • Diserbu Produk China Murah! Industri Plastik RI Nyaris Tumbang dari Hulu ke Hilir
    Artikel ini memberikan pencerahan yang sangat berimbang dan ...

Calon Sekolah Adiwinata Bekasi Memasuki Penilaian Akhir

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Calon Sekolah Adiwinata Bek...
Nasional
Pesantren Jadi Pusat Ekonom...
Olahraga
Persija Jakarta Rekrut Fran...
Luar Negeri
Putin Beri Instruksi Mengej...
Advertisement
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Sampai Banten! Mata Warga Mulai Perih

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Sampai Banten! Mata Warga Mulai Perih

06 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.