Aktivis Wanita Iran Memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian
📅 Sabtu, 07 Okt 2023, 00:02 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: NARGES MOHAMMADI FOUNDATION/AFP
STOCKHOLM - Akademi Nobel Swedia, pada Jumat (6/10), menganugerahkan hadiah Nobel Perdamaian kepada aktivis hak asasi manusia Iran, Narges Mohammadi, atas perjuangannya melawan penindasan terhadap perempuan di Iran.
Dilansir oleh Agence France-Presse (AFP), penghargaan yang diberikan kepada aktivis yang tengah dipenjara ini diberikan setelah gelombang protes melanda Iran karena kematian seorang pemudi Kurdi, Mahsa Amini, yang ditahan setahun lalu karena melanggar aturan ketat dalam berpakaian bagi perempuan di Iran.
Mohammadi, seorang jurnalis dan aktivis berusia 51 tahun, telah menghabiskan sebagian besar waktunya selama dua dekade terakhir keluar-masuk penjara karena kampanyenya menentang kewajiban berhijab bagi perempuan dan hukuman mati.
Dia adalah wakil presiden Pusat Pembela Hak Asasi Manusia yang didirikan oleh pengacara hak asasi manusia Iran, Shirin Ebadi, yang juga merupakan penerima hadiah Nobel Perdamaian pada 2003.
"Mohammadi mendapat penghargaan atas perjuangannya melawan penindasan terhadap perempuan di Iran dan perjuangannya untuk memajukan hak asasi manusia dan kebebasan bagi semua orang," kata Ketua Komite Nobel Norwegia, Berit Reiss-Andersen, di Oslo.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Perjuangan beraninya harus dibayar dengan kerugian pribadi yang sangat besar. Secara keseluruhan, rezim telah menangkapnya sebanyak 13 kali, memvonisnya lima kali, dan menjatuhkan hukuman total 31 tahun penjara dan 154 kali cambukan," kata Reiss-Andersen dalam kutipan juri.
Serukan Pembebasan
Berbicara kepada wartawan setelah pengumuman tersebut, dia menyerukan pembebasan Mohammadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jika pihak berwenang Iran membuat keputusan yang tepat, mereka akan membebaskannya. Jadi, dia bisa hadir untuk menerima hadiah Nobel ini, yang merupakan harapan utama kami," katanya.
"Protes baru-baru ini di Iran mempercepat proses mewujudkan demokrasi, kebebasan, dan kesetaraan di Iran, sebuah proses yang kini tidak dapat diubah," kata Mohammadi kepada AFP bulan lalu dalam sebuah surat yang ditulis dari sel penjaranya.
Dia dan tiga wanita lainnya yang ditahan bersamanya di penjara Evin di Teheran membakar jilbab mereka untuk memperingati kematian Amini pada 16 September.
Iran berada di peringkat 143 dari 146 negara dalam peringkat kesetaraan gender Forum Ekonomi Dunia. Pihak berwenang Iran menindak keras pemberontakan "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" yang terjadi tahun lalu.
Sebanyak 551 pengunjuk rasa, termasuk 68 anak-anak dan 49 wanita, dibunuh oleh pasukan keamanan, menurut Hak Asasi Manusia Iran, dan ribuan lainnya ditangkap.
Hal yang tidak terbayangkan setahun yang lalu, perempuan kini keluar ke tempat umum tanpa jilbab, khususnya di Teheran dan kota-kota besar lainnya, meskipun ada risikonya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!