Jokowi Serukan Negara-negara Besar Tidak Mempertajam Persaingan
📅 Jumat, 08 Sep 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: WILLY KURNIAWAN/AFP
» Negara-negara mempunyai tanggung jawab yang sama untuk tidak menciptakan konflik baru, ketegangan baru, dan perang baru.
» Ketika suatu negara atau satu kawasan terganggu akan mempengaruhi kawasan yang lain.
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Konprensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur yang merupakan rangkaian KTT ke-43 Asean di Jakarta, Kamis (7/9), menyerukan kepada negara-negara besar di dunia untuk "memperkuat kerja sama, bukan mempertajam persaingan".
"Saya tidak tahu berapa banyak kata perdamaian dan stabilitas yang kita ucapkan di setiap pertemuan, karena perdamaian dan stabilitas adalah kunci untuk mencapai kemakmuran," kata Presiden Jokowi.
Dikutip dari The Straits Times, KTT Asia Timur tahunan mempertemukan para pemimpin dari Asean, Australia, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Russia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (AS).
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden AS, Joe Biden, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, tidak hadir pada pertemuan tersebut. Namun Wakil Presiden AS, Kamala Harris, dan Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, hadir di Jakarta.
Jokowi mengatakan negara-negara mempunyai tanggung jawab yang sama untuk tidak menciptakan "konflik baru, ketegangan baru, perang baru". "Kita juga mempunyai tanggung jawab untuk mengurangi ketegangan yang memanas, mencairkan suasana yang membeku, menciptakan ruang dialog, dan menjembatani perbedaan yang ada," kata Jokowi.
Presiden pun mendesak para pemimpin di KTT Asia Timur untuk "menjadikan forum tersebut sebagai tempat untuk memperkuat kolaborasi, tempat untuk memperkuat kerja sama, bukan untuk mempertajam persaingan".
Sebaiknya Anda baca juga:
Kawasan Indo-Pasifik telah menjadi arena di mana AS dan Tiongkok bersaing memperebutkan kekuasaan dan pengaruh. Selain itu, klaim Tiongkok atas Taiwan dan klaim yang tumpang tindih di Laut Tiongkok Selatan oleh Beijing dan beberapa negara, termasuk beberapa anggota Asean berpotensi menjadi titik konflik.
Para pemimpin Asean di KTT tersebut telah menegaskan kembali pesan-pesan perdamaian, stabilitas dan netralitas di tengah kekhawatiran atas meningkatnya persaingan antara Tiongkok dan AS.
Sebelumnya, pada Selasa, Jokowi memperingatkan bahwa Asean tidak akan menjadi "proxy bagi negara mana pun", dan akan bekerja sama dengan siapa pun demi perdamaian dan kemakmuran.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani, menilai pernyataan Presiden Jokowi itu sejalan dengan keketuaan dalam KTT yang ingin menjadikan Asean sebagai episentrum pertumbuhan.
"Intinya, kalau ingin bekerja sama dengan Asean, jangan terlalu mendikte yang utamanya dalam konteks geopolitik seperti persaingan AS dan Tiongkok," kata Riza.
Dalam statemen Presiden Jokowi tersebut, ada ketegasan kalau AS dan Tiongkok ingin bekerja sama dengan Asean, maka seharusnya tetap berpegang pada prinsip dasar Treaty of Amity and Cooperation in South-East Asia sejak Asean didirikan pada 1976.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!