Antonius Benny Susetyo: Paskibraka Harus Aktif Menjaga Kemajemukan dalam Menggunakan Media Sosial
📅 Rabu, 06 Sep 2023, 17:27 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoSementara itu, Kombes Pol Y Rombe Biantong sebagai pembicara selanjutnya menyatakan dalam era digital ini rekrutmen teroris tidak lagi dilaksanakan dengan pertemuan secara tatap muka, perekrutan teroris sudah menggunakan metode masuk dalam media sosial, dengan mencari simpatisan melalui konten-konten propaganda bernuansa emosional dan menggugah emosi dibalut dengan narasi bernuansa keagamaan.
Masyarakat yang tertarik dan terjebak dalam narasi ini kemudian pelan-pelan ditarik untuk menjadi intoleran yang cenderung memisahkan diri dari masyarakat yang beragam. Mereka mulai membatasi diri dari orang orang serta kelompok yang berbeda dari mereka, kemudian berkembang menjadi radikalis yang berpikir bahwa dengan percaya dan membagikan narasi negatif bernuansa kebencian kepada masyarakat yang berbeda identitas dari mereka.
Semua ini merupakan bukti perjuangan hingga akhirnya menjadi teroris yang dengan nyata melakukan kekerasan dan membuat kehancuran kepada siapa saja yang berbeda persepsi dengan mereka.
Kasatgaswil Kalteng Densus 88 ini lebih lanjut menyatakan metode penyebaran ini tidak hanya terjadi kepada masyarakat di kota-kota besar, namun keberadaannya juga sudah memasuki desa-desa dan ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan mereka yang sehari-hari keberadaannya dihidupi oleh negara, seperti ASN dan TNI-Polri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk itu, Paskibra sebagai ikon generasi muda sekaligus representasi negara dan Pancasila harus mampu menjadi garda terdepan dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan khususnya dalam upaya mencegah berkembangnya paham-paham radikal yang keberadaannya mengancam persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.
"Para anggota Paskibra, khususnya peserta yang hadir dari seluruh 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah ini diharapkan dapat mengisi ruang publik, baik nyata maupun digital dengan konten-konten positif tentang nilai dan budaya lokal sehingga ruang publik dan digital di Indonesia kembali dipenuhi oleh konten positif yang sesuai dengan nilai Pancasila hingga kedamaian serta persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dapat senantiasa terjaga," tutup Rambe dalam acara yang diselenggarakan BPIP bekerja sama dengan Kesbangpol Provinsi Kalimantan Tengah ini.
Dalam sesi tanya jawab, antara lain ditanyakan mengenai bagaimana cara yang tepat untuk meningkatkan nasionalisme di era digital ini, Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP menjawab bahwa kita harus bisa membangun dan bekerja sama untuk membuat konten-konten positif dan inspiratif mengenai tarian dan budaya lokal dengan memanfaatkan dan memaksimalisasi penggunaan media sosial.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selanjutnya mengenai pertanyaan tentang menghadapi gempuran globalisasi, Benny menyatakan sudah saatnya ditingkatkan literasi kebangsaan, buat budaya membaca kembali mengemuka di masyarakat hingga masyarakat dapat membaca secara kritis tentang konten-konten yang dilempar dalam ruang digital hingga dapat memilah konten-konten apa yang patut dan bermanfaat bagi kita secara pribadi dan lebih lanjut bagi masyarakat.
"Kita juga bisa dapat membuat konten tentang cinta terhadap tanah air dengan pembahasan dan bahasa yang menarik hingga masyarakat khususnya generasi muda makin meningkat rasa nasionalismenya," kata Benny.
Untuk peserta yang menanyakan mengenai mengapa banyak pengguna internet Indonesia tidak beretika, Benny menyatakan ini terjadi karena tidak ada pengenalan terlebih dahulu tentang media sosial, tidak ada pedoman mengenai etika dalam memberi komen atau share hingga masyarakat terjebak pada persepsi mengenai apas aja mungkin dan apa saja boleh di ruang digital karenanya perlu membiasakan diri untuk mengedukasi diri mengenai etika berinteraksi di dunia maya dan membaca serta mencari referensi referensi valid dari media cetak dan buku-buku yang teruji kebenarannya.
Benny menutup sesi tanya jawab tersebut dengan menyatakan generasi muda, khususnya Paskibraka harus memiliki kemandirian di bidang politik, budaya, dan kepribadian dalam berinteraksi di ruang digital.
Dengan kemandirian ini diharapkan bisa senantiasa melakukan cek dan ricek terhadap segala konten yang dibagikan di media sosial, dan menyebarkan pentingnya kecerdasan literasi dalam menerima konten yang diterima di media sosial hingga ruang digital dan media sosial yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat serta bebas hoaks, narasi perpecahan, dan politik identitas dapat terwujud.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!