Indonesia Belum Cukup Kompetitif di Lingkup Regional
📅 Jumat, 01 Sep 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/HARVIYAN PERDANA PUTRA
» Peringkat daya saing secara umum belum bergerak membaik dibandingkan sebelum pandemi.
» Investasi yang masuk kebanyakan padat modal sehingga penyerapan tenaga kerja masih minim.
JAKARTA - Lompatan peringkat Indeks Daya Saing Indonesia menurut IMD Global Competitiveness Index tahun 2023 dinilai tidak sesuai dengan perkembangan terbaru ekonomi Indonesia. Sebab, parameter yang diukur seperti pertumbuhan investasi dan rasio investasi terhadap Produk Dometik Bruto justru turun.
IMD Global Competitiveness Index 2023 mencatat peringkat daya saing Indonesia membaik dari posisi 44 pada tahun lalu menjadi 34 tahun ini atau naik 10 peringkat.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, di Jakarta, Kamis (31/8), mengatakan saat ini pertumbuhan investasi RI dan rasio investasi terhadap PDB justru turun.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Semestinya jika peringkat naik, dua paramater itu seharusnya ikutan naik, tetapi faktanya tidak," sanggah Tauhid.
Parameter lainnya seperti pangsa pasar ekspor Indonesia yang turun terimbas tekanan ekonomi global. "Dari sejumlah parameter itu saja, laporan itu tidak mencerminkan realita di lapangan," kata Tauhid.
Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan kenaikan itu harus disikapi secara bijak. Meskipun peningkatan peringkat tampak spektakuler, namun menyisakan beberapa catatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertama, peringkat tersebut masih kalah dari negara tetangga di Asia Tenggara (Asean) seperti Thailand di posisi 30, begitu pula dengan Malaysia di ranking 27, dan Singapura di posisi keempat. Indonesia hanya lebih baik dari Filipina yang berada di posisi 52. "Hal itu berarti, dalam lingkup regional pun Indonesia masih belum cukup kompetitif," kata Aloysius.
Kedua, katanya, peringkat Indonesia pada 2019 berada di posisi 32, yang berarti posisi 34 pada 2023 belum mampu mengembalikan capaian sebelum pandemi.
Ketiga, komponen-komponen dari daya saing ini pun banyak yang masih kalah dibandingkan posisi 2019. Kinerja ekonomi saat ini di peringkat 29, namun tahun 2019 ada di peringkat 25. Begitu pula efisiensi birokrasi/pemerintahan, saat ini di posisi 31, sedangkan sebelum pandemi di peringkat 25. Efisiensi bisnis pada 2019 dan 2023 berada di peringkat 20.
"Hanya komponen infrastruktur yang meningkat dari posisi 53 pada 2019 menjadi 51 pada 2023, namun demikian dalam kurun waktu tersebut selalu di atas angka 50," katanya.
Dengan demikian, perkembangan peringkat daya saing secara umum belum bergerak membaik dibandingkan sebelum pandemi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa dampak dari pandemi dan kejutan-kejutan ekonomi yang terkait, belumlah benar-benar terselesaikan," kata Aloysisus.
Infrastruktur, tambahnya, nampak belum memberikan kemanfaatan secara berarti, sehingga terindikasi perlunya keterkaitan pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor pendidikan, kesehatan, dan lingkungan dengan daya saing secara keseluruhan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!