Etika Lingkungan dan Pelestarian Alam dalam Epos Galigo
📅 Senin, 14 Agu 2023, 11:50 WIB | Oleh: Tim PenulisDalam konteks ini, kisah Ritumpanna wélenrénngé juga menggambarkan pentingnya eksistensi pohon bagi keutuhan ekosistem. Misalnya, saat pohon welenreng yang disebut-sebut sejenis pohon trembesi tumbang, bencana banjir langsung melanda tujuh kerajaan.
Penggambaran tersebut sangat berbeda dengan keberadaan hutan yang saat ini jamak dianggap sebagai komoditas untuk meraup kekayaan. Akibatnya, atas nama pertumbuhan ekonomi, jutaan hektare hutan alam dirambah untuk kebun sawit, tanaman industri, industri kayu, hingga pertambangan.
Keberadaan pohon juga tak kalah penting bagi makhluk hidup di sekitarnya. Dalam Ritumpanna wélenrénngé, fakta ini diuraikan dalam ratapan salah satu burung penunggu Wellenreng:
Sawé si mpating lé manuq-manuq lé kurudaé….
…. ssellang mallappa wating makkeda
"Lé patang sani bannapatimmu Wélenrénngé.
mutuling sai wating mapeqdî
pakkamasêku riwatammu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tampil pula meratap burung gerda,….
…..menangis meratap berkata,
"Tahan dahulu jiwamu Wélenréng,
kau dengarkan ratap tangis
belas kasihku padamu."
Contoh lainnya adalah kisah Sawerigading yang berdialog dengan makhluk penunggu pohon, persiapan serta ritual-ritual yang dilakukan sebelum penebangan. Hal-hal tersebut juga menyiratkan pesan etika manusia yang harus mempertimbangkan aspek ekologi sebelum melakukan sesuatu yang berdampak pada makhluk lain.
Epos yang Hidup dan Menghidupkan
Sebaiknya Anda baca juga:
Epos Galigo bukan hanya karya sastra yang menumpuk di Museum Universitas Leiden, Belanda. Bukan pula kisah ini hanya dihayati para ilmuwan sastra ataupun sastrawan.
Kisah-kisah di dalam Sureq Galigo tetap hidup dalam tradisi lisan dan norma adat masyarakat di berbagai wilayah di Sulawesi. Begitu juga dengan gagasan deep ecology di dalamnya.
Sebagai contoh, masyarakat Cerekang yang menjaga hutan dan sungai di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Keberadaan hutan dan kehidupan di dalamnya, menurut masyarakat Cerekang, berasal dari turunnya Batara Guru (yang menjelma limpahan air dari langit) ke bumi. Figur Batara Guru juga termuat dalam Sureq Galigo.
Kisah ini diwariskan secara turun temurun. Masyarakat Cerekang meyakini mereka bertugas merawat kedua ekosistem tersebut sebagai bentuk bakti mereka terhadap Batara Guru dan pasangannya, Wé Nyiliq Timo, yang dipercaya berasal dari sungai.
Keyakinan ini kemudian mengkristal dalam etika-etika komunal yang menghidupkan aktivitas masyarakat di kawasan adat Cerekang. Semuanya memiliki kisah, fungsi, dan aturan masing-masing.
Misalnya di ekosistem mangrove di sepanjang Sungai Cerekang yang dinamakan Beroe. Masyarakat meyakini Beroe dahulu merupakan desa tempat makam La Massagoni To Barani, pemimpin armada militer Raja Sawerigading.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!