Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Etika Lingkungan dan Pelestarian Alam dalam Epos Galigo

📅 Senin, 14 Agu 2023, 11:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Etika Lingkungan dan Pelestarian Alam dalam Epos Galigo Doc: The Conversation/Wikimedia Commons/Istiqamah.a
Ket. Masyarakat Kajang di Bulukumba melakukan ritual sesaji makanan.

Rusdian Lubis, Universitas Indonesia

Artikel ini merupakan bagian dari serangkaian analisis untuk meramaikan perhelatan Wallacea Science Symposium di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 13 - 15 Agustus 2023.

Sawerigading dari Kerajaan Luwuq di Sulawesi Selatan ingin menebang pohon welenreng (Wélenrénngé dalam ejaan Bugis). Dia ingin mengambil kayunya sebagai bahan baku kapal yang akan mengantarnya ke Cina. Di sana, Sawerigading akan meminang We Cudai, calon istrinya.

Namun, pohon Welenreng bukan sembarang pohon. Tingginya konon mencapai sekitar 700 depa, setara 1.280 meter atau sepertiga tinggi Gunung Semeru di Jawa Timur. Lebarnya 300 depa atau 548 meter. Dia dihuni oleh banyak makhluk: dari ular besar, burung-burung, raja dan ratu babi hutan, monyet, ikan, hingga makhluk gaib.

Sebelum menebang, Sawerigading melakukan sejumlah ritual dan membujuk makhluk gaib penunggu pohon welenreng (melalui ayahnya Batara Lattuq) untuk merelakan tempat tinggalnya.

Setelah lebih dari sembilan hari dan sembilan malam, pohon raksasa itu roboh dan mengguncang bumi. Para makhluk penunggu meratap lalu kocar-kacir mencari tempat tinggal. Tujuh kerajaan di sekitarnya tenggelam karena banjir. Sawerigading bahkan turut masygul atas perbuatannya.

Kisah di atas merupakan bagian dari cerita Penebangan Pohon Welenreng (Ritumpanna Wélenrénngé), yang tertulis dalam epos Galigo atau Sureq Galigo dari khazanah masyarakat Bugis. Karya tersebut sudah disampaikan sejak abad ke-14 dalam bentuk lisan.

Epos ini memuat 300 ribu bait syair--dianggap sebagai yang terpanjang di dunia, mengalahkan Mahabharata dari India dan the Iliad dari Yunani. Sawerigading sebagai keturunan dewa sekaligus Raja Luwuq adalah tokoh utama dalam kisah ini.

Kisah Galigo menjadi salah satu bukti betapa kuatnya kearifan ekologi masyarakat Bugis. Di tengah deru pembangunan dan pengerukan sumber daya alam, rasanya tak ada yang lebih tepat dari saat ini bagi kita untuk menggali kearifan di tengah masyarakat dalam pelestarian Bumi.

Melalui penghayatan La Galigo, kita berharap dapat menyeimbangkan dominasi narasi antroposentrisme yang berpusat pada kepentingan manusia dalam berbagai kegiatan dan kebijakan di Indonesia maupun dunia.

Epos Galigo dan kearifan ekologi di Sulawesi

Kisah Penebangan Pohon Welenreng menyiratkan bagaimana Epos Galigo seirama dengan konsep etika deep ecology (ekologi mendalam). Konsep ini menekankan gagasan bahwa seluruh makhluk hidup berhak dan berharga untuk eksis, terlepas dari nilai instrumental mereka bagi manusia.

Deep ecology menantang pandangan antroposentrisme yang menganggap alam semesta hanyalah sumber daya yang harus dieksploitasi demi keuntungan manusia.

Dalam deep ecology, manusia hanyalah salah satu di antara banyaknya spesies di Bumi. Semuanya memiliki peran dan kontribusi unik terhadap kesehatan dan fungsi keseluruhan ekosistem.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.