Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Fenomena Gerhana Bulan Darah, Simak Mitosnya dari Seluruh Dunia

📅 Selasa, 25 Jul 2023, 13:28 WIB | Oleh: Tim Penulis
Fenomena Gerhana Bulan Darah, Simak Mitosnya dari Seluruh Dunia Doc: The Conversation/Shutterstock
Ket. Gerhana bulan.

Daniel Brown, Nottingham Trent University

Jutaan orang akan berkesempatan untuk melihat gerhana bulan - peristiwa yang dikenal di media sebagai blood moon atau gerhana bulan darah - pada hari Jumat, 27 Juli. Gerhana bulan yang dapat dilihat di sebagian besar belahan dunia ini - hanya Amerika Utara dan Greenland yang diperkirakan tidak akan dapat menyaksikannya - akan menjadi gerhana bulan terlama di abad ini, jadi masih banyak waktu untuk melihatnya.

Selama gerhana bulan darah ini, bulan purnama bergerak ke dalam bayangan Bumi yang diterpa sinar matahari, dan untuk sementara waktu menjadi gelap. Sebagian cahaya matahari masih mencapai bulan, dibiaskan oleh atmosfer Bumi, namun menyinari bulan dengan cahaya merah pucat sampai merah tua, tergantung pada kondisi atmosfer.

Sebagai seorang komunikator astronomi, istilah "gerhana bulan darah" adalah masalah besar bagi saya, karena istilah ini mengisyaratkan sesuatu selain gerhana bulan dan memunculkan gambar bulan yang berkilauan dengan warna merah tua, yang sama sekali tidak akurat. Namun, sebagai seorang astronom budaya, frasa ini menampilkan beberapa cara menarik yang digunakan masyarakat modern untuk menciptakan kisah-kisah langit.

Gerhana bulan darah telah memukau budaya di seluruh dunia, dan mengilhami beberapa mitos dan legenda yang menakjubkan, banyak di antaranya yang menggambarkan peristiwa tersebut sebagai pertanda. Hal ini tidak mengherankan, karena jika ada sesuatu yang mengganggu ritme reguler matahari atau bulan, maka akan berdampak besar pada diri dan kehidupan kita.

Mitos buruk gerhana bulan

Bagi banyak peradaban kuno, "gerhana bulan" dipercaya sebagai sesuatu yang datang dengan niat jahat. Masyarakat Inca kuno, misalnya, menafsirkan warna merah tua sebagai jaguar yang menyerang dan memakan bulan. Mereka percaya bahwa jaguar akan mengalihkan perhatiannya ke Bumi, sehingga orang-orang akan berteriak, mengayunkan tombak dan membuat anjing mereka menggonggong dan melolong, dengan harapan dapat menimbulkan suara yang cukup keras untuk mengusir jaguar tersebut.

Pada masa Mesopotamia kuno, gerhana bulan dianggap sebagai serangan langsung terhadap raja. Mengingat kemampuan mereka untuk memprediksi gerhana dengan akurasi yang masuk akal, mereka akan menempatkan seorang raja pengganti selama durasinya. Seseorang yang dianggap dapat dikorbankan (ini bukanlah pekerjaan yang diminati), akan berpura-pura menjadi raja, sementara raja yang sebenarnya akan bersembunyi dan menunggu gerhana berlalu. Raja pengganti kemudian akan menghilang dengan mudah, dan raja yang lama akan dipulihkan.

Beberapa cerita rakyat Hindu menafsirkan gerhana bulan sebagai akibat dari setan Rahu yang meminum ramuan keabadian. Dewa kembar matahari dan bulan segera memenggal kepala Rahu, namun setelah meminum ramuan tersebut, kepala Rahu tetap abadi. Untuk membalas dendam, kepala Rahu mengejar matahari dan bulan untuk memangsanya. Jika ia berhasil menangkap mereka, maka akan terjadi gerhana - Rahu menelan bulan, yang kemudian muncul kembali dari lehernya yang terpenggal.

Bagi banyak orang di India, gerhana bulan dianggap membawa kesialan. Mereka menutupi makanan dan air serta melakukan ritual pembersihan. Perempuan hamil, khususnya, tidak boleh makan atau melakukan pekerjaan rumah tangga, untuk melindungi janin mereka.

Mitos religius gerhana bulan

Tidak semua mitos gerhana bernuansa kejahatan. Suku Hupa dan Luiseño dari California, Amerika Serikat (AS), percaya bahwa bulannya terluka atau sakit. Setelah gerhana, bulan akan membutuhkan penyembuhan, baik oleh istri bulan atau anggota suku. Suku Luiseño, misalnya, akan bernyanyi dan melantunkan lagu-lagu penyembuhan ke arah bulan yang menjadi gelap.

Yang lebih positif lagi adalah legenda masyarakat Batammaliba di Togo dan Benin di Afrika. Secara tradisional, mereka memandang gerhana bulan sebagai konflik antara matahari dan bulan - sebuah konflik yang harus didorong oleh masyarakat untuk diselesaikan. Oleh karena itu, gerhana bulan menjadi momen untuk menyelesaikan perseteruan lama, sebuah praktik yang masih berlangsung hingga saat ini.

Dalam budaya Islam, gerhana cenderung ditafsirkan tanpa takhayul. Dalam Islam, matahari dan bulan melambangkan penghormatan yang mendalam kepada Allah, sehingga selama gerhana, doa-doa khusus diucapkan, termasuk Salat-al-khusuf, "doa pada gerhana bulan". Salat ini bertujuan memohon pengampunan Allah dan menegaskan kembali kebesaran Allah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.