George Soros Wariskan Filantropi, Donasi, Serbuan Antisemit, dan Teori Konspirasi
📅 Minggu, 25 Jun 2023, 10:02 WIB | Oleh: Tim PenulisSecara luas tujuan dari sebagian besar filantropi Soros adalah untuk mendukung masyarakat yang toleran, dengan pemerintah yang akuntabel dan memungkinkan setiap orang untuk berkampanye, memprotes, menyumbang kepada kandidat yang mereka sukai atau bahkan mencalonkan diri.
Kini, yayasan-yayasan Soros mendukung organisasi hak asasi manusia di lebih dari 100 negara. Programnya membiding berbagai macam masalah global, seperti darurat kesehatan masyarakat hingga pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpenghasilan rendah.
Soros masuk ke dalam 500 orang terkaya di dunia versi Bloomberg, dengan kekayaan pribadi melebihi $7 miliar per 2023. Akan tetapi, hartanya bisa jauh lebih besar seandainya ia tak merelakan $32 miliar untuk Open Society Foundations sejak 1984.
Mitos konspirasi antisemitisme
Sebaiknya Anda baca juga:
Dukungan Open Society Foundations terhadap gerakan-gerakan progresif seperti America Votes dan Demand Justice memantik amarah para konservatif yang tak sepakat dengan tujuan gerakan-gerakan tersebut.
Tak hanya itu, kekayaan dan pengaruh Soros membuatnya menjadi target dari berbagai teori konspirasi.
Ia digambarkan sebagai dalang yang menggerakkan peristiwa-peristiwa di dunia dari balik layar demi keuntungannya sendiri. Tuduhan-tuduhan tak berdasar ini kerap menyasar identitasnya sebagai keturunan Yahudi, memicu suara-suara kebencian dan ekspresi antisemit yang telah berumur ratusan tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat arus pengungsi dari Suriah masuk ke Eropa pada 2015, misalnya, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán menuduh Soros memiliki rencana jahat untuk memfasilitasi "pengambilan alih Eropa oleh Islam" dengan para migran Suriah.
Mantan Perdana Menteri Slowakia Robert Fico juga menyalahkan Soros atas protes kebebasan pers yang terjadi di negaranya setelah pembunuhan jurnalis investigasi Ja?n Kuciak dan tunangannya pada 2018.
Pada 2015, partai sayap kanan All-Polish Youth membakar patung Soros yang berpakaian seperti Yahudi Hasid dan memegang bendera Uni Eropa, meskipun sang filantropis itu dibesarkan oleh keluarga yang tidak religius, tidak pernah berpakaian dengan gaya sekte Hasidik ultra-Ortodoks dan bukan pendukung kuat isu-isu terkait Yahudi.
Seperti yang saya jelaskan dalam sebuah bab buku tentang nasionalisme dan populisme, Soros juga banyak diserang oleh berbagai teori konspirasi AS. Kevin McCarthy, politisi asal California yang kini jadi juru bicara DPR, menuduh Soros berusaha membeli pemilu paruh waktu 2018. Pada tahun yang sama, pemimpin Asosiasi Senapan Nasional, Wayne LaPierre menuding Soros merencanakan gerakan sosialis untuk mengambil alih AS, memantik kembali mitos antisemitisme awal abad ke-20 tentang plot Yahudi-Bolshevik.
Pada tahun itu juga, Donald Trump yang saat itu menjawabat sebagai presiden mengunggah cuitan keliru bahwa Soros mendanai aksi demonstrasi terhadap penunjukkan Brett Kavanaugh sebagai Hakim Mahkamah Agung.
Teori-teori tak berdasar ini juga menginspirasi aksi para ekstremis: Pada 2010, ekstremis sayap kanan merencanakan serangan ke yayasan progresif asal San Fransisco, Tides Foundation. Rencananya gagal dan berujung pada baku tembak dengan polisi. Ia kemudian dihukum 401 tahun penjara. Ekstremis itu salah percaya bahwa Soros menggunakan Tides "untuk semua jenis aktivitas jahat".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!