George Soros Wariskan Filantropi, Donasi, Serbuan Antisemit, dan Teori Konspirasi
📅 Minggu, 25 Jun 2023, 10:02 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP
Armin Langer, University of Florida
George Soros, investor miliarder sekaligus filantropis terkemuka, menyerahkan kendali bisnisnya yang sebesar US$25 miliar (sekitar Rp 375 triliun), termasuk Open Society Foundations, kepada salah satu putranya, Alexander Soros.
Sebagai sosiolog yang meneliti tentang imigran dan minoritas di Eropa serta teori-teori konspirasi tentang mereka, saya mempelajari bagaimana Soros menjadi kambing hitam dan momok bagi para nasionalis dan populis, sekaligus target bagi orang-orang yang membenci dan menyebarkan pandangan antisemitisme (sikap permusuhan terhadap orang-orang Yahudi).
Teori-teori konspirasi tak berdasar kadang mengaburkan warisan Soros sebagai salah satu donatur terbesar dunia untuk tujuan seperti pendidikan tinggi, hak asasi manusia, dan demokratisasi negara-negara bekas komunis di Eropa.
Sukses setelah menderita
Sebaiknya Anda baca juga:
Lahir pada 1930 di keluarga Yahudi Hungaria, Soros selamat dari pendudukan Nazi dan Holocaust. Usai Perang Dunia II, Soros pindah dari Budapest ke Inggris dan berkuliah di London School of Economics sembari bekerja paruh waktu di kerjaan-kerjaan berupah rendah. Ia berimigrasi ke Amerika Serikat (AS) pada 1956 dan memperoleh kewarganegaraannya lima tahun kemudian.
Soros menjadi investor dan manajer dana investasi sukses pada dekade 1970an.
Memasuki dekade 1990an, ia telah bergelimang harta dan memantapkan dirinya sebagai salah satu pemodal penting dunia.
Namun, dedikasinya pada filantropi dan dukungannya pada kebebasan berpolitik yang membuatnya dikenal orang-orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Filantropi dalam jumlah besar
Pada 1980an, Soros memulai kontribusinya terhadap gerakan politik dan sosial untuk menggeser pemerintahan komunis dengan masyarakat demokratis di negara-negara Eropa Timur. Menyadari pentingnya pergerakan akar rumput dalam membuat perubahan, dukungannya memungkinkan banyak aktivis untuk melawan opresi dan mengadvokasi hak asasi manusia.
Dia juga melakukan donasi besar-besaran untuk mendukung pendidikan.
Aksi filantropi pertama Soros adalah ketika pada 1979, ia mendanai beasiswa untuk para pelajar kulit hitam di Afrika Selatan, yang kala itu masih menerapkan kebijakan apartheid. Pada 1980an, ia membantu mempromosikan pertukan ide di Hungaria Komunis dengan mendanai kunjungan para pemikir libera Hungaria ke universitas-universitas Barat.
Ketika dia mendonasikan $250 juta ke Central European University di Budapest pada 2001, sumbangannya menjadi yang terbesar untuk hibah pendidikan kala itu.
Soros mendirikan apa yang sekarang dikenal sebagai Open Society Foundations pada 1993. Nama jaringan hibah internasional ini terinspirasi oleh buku The Open Society and Its Enemies (Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya) yang ditulis Karl Popper pada 1945. Popper berargumen bahwa individu berkembang pesat dalam masyarakat yang terbuka karena mereka dapat mengekspresikan diri dengan bebas dan menguji ide-ide mereka, sementara masyarakat yang tertutup akan berujung pada kebuntuan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!