Jika Akar Masalah Tidak Dibenahi, di 2045 Ekonomi RI Tumbuh Tidak Lebih dari 3 Persen
📅 Jumat, 19 Mei 2023, 01:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiBahkan yang paling fatal, mereka bisa memengaruhi lembaga-lembaga seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membuat aturan yang menguntungkan mereka seperti kebijakan pembagian dividen yang tidak terbatas. Akibatnya, bank-bank yang ada, keuntungannya habis dibagi ke para kroni sebagai pemegang saham yang pada akhirnya bank tidak mempunyai kapasitas modal lagi untuk menjalankan fungsi intermediasi khususnya menyalurkan pembiayaan ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
"Kalau hukum bisa dibeli, tinggal tunggu negara akan mati. Begitu pula kalau BI dan OJK membesarkan bank tapi dengan membiarkan bank membagi dividen semaunya, sama saja membiarkan satu bangsa mati," kata Siprianus.
Dia juga menyoroti kebijakan yang mendorong perusahaan BUMN bekerja sama dengan swasta dengan menggunakan aset negara. Pada akhirnya, yang besar adalah perusahaan swasta karena memanfaatkan dana perusahaan negara untuk tumbuh.
Keputusan direksi Telkomsel membeli saham GOTO perlu dipertanyakan, apakah karena murni hasil riset kalau itu bakal menguntungkan atau sebaliknya karena tekanan dari pemegang saham kepada direksi untuk berinvestasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Mereka yang bisa berbuat dan menekan direksi itu kan pejabat yang berkuasa. Kalau dia tidak punya moral maka pejabat tersebut merasa punya hak dan wewenang, tetapi disalahgunakan untuk merampok kekayaan negara, sekalipun itu bakal membunuh bangsa dan negara," kata Siprianus.
Kalau pemerintah tidak berdaya melepaskan diri dari jeratan kronisme tersebut, rakyat hanya akan berharap pada para wakilnya di DPR mapun DPRD. DPR pun saat ini kelihatannya tidak terlalu mengurusi pembangunan desa, sehingga masyarakat praktis berharap pada wakil mereka di DPRD.
"DPRD-lah yang harus bangkit berjuang karena DPR cenderung abai. Mereka bersuara mengatasnamakan rakyat, tapi faktanya bukan untuk kepentingan rakyat. "Bagaimana mau menangkap, sedangkan pelakunya temennya sendiri. Bagaimana mereka bisa lolos dari jerat hukum, tentu karena kroni," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut, Siprianus mengatakan pemerintah Tiongkok bisa menjadi contoh yang baik bagi Asia Tenggara. Di satu sisi nampak seperti tangan besi menjalankan kekuasaan, tapi kalau mereka tidak memberantas kronisme dan korupsi maka negaranya akan hancur lagi.
"Sayangnya Indonesia tidak mau belajar, tunggu sampai hancur. Semua harta kroni yang dirampok dari rakyat, mau diwariskan ke anak cucunya, itu tidak akan bisa, malah jadi debu karena darah rakyat yang dirampok yang sebabkan antara lain kasus stunting yang sangat banyak. Mereka membunuh masa depan anak Indonesia," katanya.
Di tengah masalah yang menggerogoti bangsa itu, banyak pejabat di Indonesia yang cenderung membandingkan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Komprasi itu sangat tidak masuk akal, bahkan terkesan kehilangan moral.
"AS memang bermasalah, tapi tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!