Menulis Harus Jadi 'Passion' Dosen
📅 Kamis, 18 Mei 2023, 19:27 WIB | Oleh: Marcellus Widiarto
Doc: Istimewa
JAKARTA - Direktur Akademi Televisi Indonesia (ATVI), Melitina Tecoalu mengatakan dosen perguruan tinggi, khususnya para dosen ATVI harus memiliki aktivitas dan kebiasaan menulis yang terus menerus, baik menulis untuk jurnal ilmiah maupun buku teks dan buku bacaan bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
Aktivitas dan kreativitas menulis itu harus bagaikan passion atau renjana dalam kosa Bahasa Indonesia yang diambil dari Bahasa Sansekerta yang dapat diartikan sebagai keinginan kuat untuk tiada henti melakukan sesuatu yang menyenangkan, halam hal ini aktivitas menulis.
Menulis dan mempublikasikannya dalam bentuk jurnal, apalagi buku, bagi para dosen, lanjut Melitina, merupakan bagian dari proses Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jadi kata renjana ini harus jadi passion para dosen melakukan kegiatan menulis yang terus-menerus.
"Buku yang dibedah ini, jadi legacy bagi para dosen ATVI karena dapat dibaca siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Ini akan abadi," papar Melitina Tecoalu ketika memberikan sambutan pada acara peluncuran dan bedah buku Perspektif Komunikasi, Media Digital, dan Dinamika Budaya, diBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Jakarta, Rabu (17/5).
Menurut siaran persnya, peluncuran dan bedah buku ini diselenggarakan atas kerja sama ATVI dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Acara ini dimoderatori Dewi Puspita dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra dan selingan hiburan berupa musikalisasi puisi oleh Komunitas Van Der Wijck.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Sekretaris Hafidz Muksin mengatakan buku Perspektif Komunikasi, Media Digital, dan Dinamika Budaya ini dari sisi konten dan karakteristik cukup beragam baik menyangkut cara membuat konten digital, begaimana membuat live streaming yang bagus, bisnis di era digital, jurnalisme warga, hingga soal alih wahana.
Dengan demikian, kata Hafidz, buku ini memberi nuansa dan wacana yang sangat lengkap bagi semua pembaca. Ini bermanfaat bagi komunitas bahasa dan sastra yang ada di Badan Bahasa ini dan tak kalah penting bagi generasi milenial. Apalagi di Badan Bahasa punya Duta Bahasa yang tersebar di semua provinsi. Mereka talenta terbaik yang secara khusus diberi dukungan dan fasilitasi untuk membuat konten-konten media kreatif yang bertemakan bahasa dan sastra, baikuntuk penguatan literasi, kelestarian bahasa, dan intenasionalisasi Bahasa Indonesia.
"Teknologi itu berkembang cepat, menguasaiteknologi informasi itu sangat penting, juga mengupdatenya. Karena itu, buku ini memberi banyak petunjuk dan contoh bagaimana kita menguasai dan memanfaatkan teknologi dengan baik dan positif," tambah Hafidz.
Sebaiknya Anda baca juga:
Editor buku ini, Suradi, menjelaskan latar belakang dan proses kreatif lahirnya buku Perspektif Komunikasi, Media Digital, dan Dinamika Budaya ini sebagai bagian dari proses kegiatan menulis para dosen ATVI. Beragamnya tema yang diangkat dalam buku ini memang dimaksdukan memberikan kesempatan bagi para dosen untuk menuangkan pemikiran dan keahliannya yang selama ini diberikan kepada mahasiswa dalam perkuliahan.
"Dukungan kolega dosen, pimpinan ATVI, dan pimpinan penerbit Prenada Media, membuat proses penulisan dan penerbitan buku berjalan lancar. Juga kolaborasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sangat apik sehingga peluncuran dan bedah buku dalam rangka Dies Natalis ke-25 ATVI sangat menarik," ungkap Suradi yang juga dosen ATVI.
Paradoks Era Digital
Sementara itu ahli komunikasi yang juga dosen ATVI, Eduard Depari mengungkapkan keresahannya menyikapi perkembanganmasyarakat di era digital yang semakin menuntut kecepatan dan kebaruan.Dapat dilihat di tengah masyarakat, polarisasi berkembang,apalagi saat kontestasi politik baik Pilpres maupun Pilkada dan pemilihan anggota legislatif pusat dan daerah.
"Membedah buku Perspektif Komunikasi, Media Digital, dan Dinamika Budaya karya para dosen ATVI ini, kita seolah di hadapkan pada paradok. Di satu sisi akses untuk beragam informasi sangat terbuka luas, tetapi saat bersamaan, semangat dan kebiasaan membaca masyarakat sangat lemah. Ini diperparah dengan intervensi media televise yang menawarkan beragamacara dan dapat dilihat di berbagai platform via HP," ujar Eduard.
Eduard yang mantan Direktur ATVI ini juga mengungkapkan, polarisasi di masyarakat semakin tajam karena peran media sosial yang tidak terkendali, terutama media sosial di tangan yang mampu membeli dan mengonsumsi tapi tidak mampu mengendalikan pesannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!