Pembangunan Nasional Harus Dimulai dari Desa
📅 Rabu, 17 Mei 2023, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/GUSTI TANATI
» Tulang punggung kekuatan ekonomi RI, desa dan UMKM. Kalau desa mati, kota pun mati.
» KPK tidak mampu memberantas korupsi kalau pemerintah pusat, Kejaksaan Agung, tidak membantu memberantas kronisme.
JAKARTA - Otoritas sektor keuangan seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus memastikan sektor jasa keuangan seperti perbankan nasional menjalankan fungsi intermediasi dengan benar. Sebab dalam perekonomian, perbankan merupakan jantung yang memompa likuiditas ke sektor riil atau dunia usaha sehingga mesin-mesin pertumbuhan ekonomi berjalan dengan optimal.
Kesalahan-kesalahan lama di masa lalu yang menganakemaskan perbankan seharusnya oleh BI dan OJK jangan diulang lagi dengan membiarkan para pemilik bank mengarahkan pembiayaan ke sektor yang cenderung spekulatif dan membuat perekonomian bubble (menggelembung), seperti properti termasuk membiayai mal serta kredit konsumtif seperti pembiayaan barang impor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mercu Buana, Yogyakarta, Awan Santosa, yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Selasa (16/5), mengatakan tugas OJK dan BI bukan hanya sekadar mengawasi perbankan, tapi juga harus memastikan setiap kebijakan yang dihasilkan berdampak positif terhadap perekonomian nasional.
"Jangan malah berkoar-koar peduli pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), tetapi kebijakannya malah membahayakan bank di kemudian hari karena mengabaikan UMKM," katanya.
Otoritas seharusnya paham kalau kekuatan ekonomi Indonesia itu ada di perdesaan, khususnya UMKM. Dengan demikian, desain kebijakan terhadap perbankan harus mengarahkan mereka menyalurkan pembiayaan di perdesaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Desa yang dimaksud pun bukan hanya yang ada di Pulau Jawa, tetapi dari Sabang sampai Merauke. Kalau bisa dimulai dari daerah terpencil, terus merambat ke kota, bukan hanya di Jakarta dan Surabaya.
Lebih lanjut, dia mengatakan intermediasi perbankan itu seharusnya lebih menyasar para pelaku UMKM di desa terpencil, bukan malah kredit untuk membangun mal dan proyek real estat yang bubble serta untuk membiayai modal kerja impor.
"Pembiayaan itu harus ke perdesaan yang menghasilkan produk dalam negeri seperti pangan dan kebutuhan rakyat lainnya yang dibangun dari desa. Karena desa dengan UMKM-nya itu tulang punggung kekuatan ekonomi RI. Jadi kalau desa dan UMKM mati, kota pun ikut mati," katanya.
Dengan mengetahui arah pembiayaan yang benar maka tinggal eksekusinya yang harus berjalan. Pihak yang bisa melakukan itu hanya pemerintah pusat bersama pemda, BI, dan OJK, dengan melibatkan DPRD karena selama ini DPR sepertinya tidak peduli. Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya jadi sumpah jabatan para pejabat BI dan OJK yang mereka tidak dijalankan, karena kerap dikelabui pengusaha.
Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ahmad Maruf, mengatakan tidak ada industri di Tanah Air yang lebih menguntungkan dari industri perbankan. Jika dilihat dari komposisi kepemilikan saham perbankan swasta nasional, bank di Tanah Air sesungguhnya hanya menjadi sapi perahan konglomerasi.
Setiap tahun dividen dibagikan besar-besaran, padahal di saat yang sama ada banyak sektor ekonomi fundamental di Tanah Air yang masih jauh dari dukungan perbankan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!