Pemimpin 2024 Harus Paham dan Berani Selesaikan Akar Masalah Kebijakan
📅 Selasa, 16 Mei 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiHal yang lebih parah lagi dari hasil kroni kapitalisme. Mereka malah bisa membeli hukum sampai membuat UU atau peraturan yang bukan untuk kepentingan bangsa, tapi untuk kepentingan diri mereka sendiri.
"Pada akhirnya, mereka jadi kebal. Para kroni ini bisa beli hukum dengan uang kejahatan. Pemimpin yang ada, dari rezim ke rezim dilingkari kroni. Maka, harus ada 'satrio piningit' yang basmi ini. Setiap kali pemilu, rakyat menunggu 'satrio piningit'. Bukan angan-angan yang muluk, tapi ini riil. Bisa dilakukan kalau mau, kalau 'satrio piningit' itu mencintai bangsa dan rakyat di atas kepentingan pribadi," katanya.
Dia pun berharap Presiden Jokowi dalam sisa dua tahun pemerintahannya bisa meletakkan landasan yang kuat untuk dilanjutkan pemimpin berikutnya.
Telantarkan Pertanian
Sebaiknya Anda baca juga:
Guru Besar Teknologi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sigit Supadmo, yang diminta pendapatnya, mengatakan belum ada di dunia ini yang membangun negara dengan memperbesar porsi kredit properti, tetapi menelantarkan sektor pertanian dan UMKM.
"Petani tanpa air dan pupuk tidak akan mampu menghasilkan produksi yang tinggi. Tanpa teknologi, mereka tidak mungkin bisa bersaing," kata Sigit.
Hal itu yang menyebabkan food estate (lumbung pangan) di Kalimantan Tengah gagal karena birokrasi yang bekerja, bukan petaninya yang dibesarkan, bukan proyeknya. Seharusnya petani yang dibesarkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kalau petani tidak diprioritaskan, akan berdampak pada sulitnya menjaga perut rakyat. Hal itu bisa berakibat pada angka stunting bayi di Indonesia. Jika angka kurang gizi tersebut tinggi, rencana besar tidak akan berjalan. Bagaimana mungkin bisa menjadi negara maju kalau masa depan anak diabaikan. "Jangan hanya membangun menara gading," katanya.
Sementara itu, pengamat politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, mengatakan banyak pemimpin di Indonesia yang pandai dan cerdas, tapi dedikasinya bukan untuk rakyat dan bangsanya.
Sebagai contoh, ada perusahaan milik negara yang bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk suatu proyek dengan memanfaatkan aset-aset yang dimiliki perusahaan negara tersebut. Kerja sama tersebut tidak membuat perusahaan negara itu lebih besar, karena yang besar malah perusahaan swastanya.
Sejarah sudah membuktikan, ada perusahaan milik negara yang bekerja sama dengan swasta dan sekarang perusahaan itu menjadi milik swasta dan dalam bisnisnya melakukan monopoli. Modus seperti itu terus dipelihara dan dibesarkan, dan sekarang mau diulang kembali.
Hal itu yang membedakan pemimpin Indonesia dengan pemimpin Tiongkok saat ini, Xi Jinping. Xi menyadari kalau swasta terlibat jauh, akan banyak kronisme terkait kekuasaan dan partai. Dia sadar kalau di masa lalu Tiongkok dari kekaisaran yang sangat besar menjadi negara miskin karena kronisme.
Makanya, selama belasan tahun Xi membasmi dengan ribuan orang masuk penjara dan harta dirampas karena terbukti korupsi dan nepotisme. Sistem kronisme dia hentikan karena sadar itu akan membunuh Tiongkok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!