Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kilau Emas Meredup Tertekan Penguatan Dolar

📅 Jumat, 12 Mei 2023, 09:44 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kilau Emas Meredup Tertekan Penguatan Dolar Doc: ANTARA/Rosa Panggabean
Ket. Emas batangan.

CHICAGO - Harga emas melemah pada akhir perdagangan Kamis (11/5) atau Jumat pagi WIB, memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut karena dolar AS menguat di tengah spekulasi investor bahwa suku bunga AS akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi Comex New York Exchange, merosot 16,60 dolar AS atau 0,81 persen menjadi ditutup pada 2.020,50 dolar AS per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di 2.047,60 dolar AS dan terendah di 2.016,70 dolar AS.

Emas berjangka tergelincir 5,80 dolar AS atau 0,28 persen menjadi 2.037,10 dolar AS pada Rabu (10/5), setelah terkerek 9,70 dolar AS atau 0,48 persen menjadi 2.042,90 dolar AS pada Selasa (9/5), dan meningkat 8,40 dolar AS atau 0,41 persen menjadi 2.033,20 dolar AS pada Senin (8/5).???????

Indeks dolar, yang melacak mata uang AS terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,7 persen menjadi 102,06, menunjukkan tingkat tertinggi dalam lebih dari seminggu, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Kamis (11/5) bahwa indeks harga produsen (IHP) AS naik 0,2 persen pada April, lebih rendah dari yang diharapkan. Secara tahunan, IHP naik 2,3 persen, turun dari 2,7 persen pada Maret dan pembacaan terendah sejak Januari 2021.

Angka IHP yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan pelonggaran inflasi, namun masih tergolong tinggi yang semakin meredam emas.

Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS meningkat 22.000 ke penyesuaian musiman 264.000 untuk pekan yang berakhir 6 Mei, pembacaan tertinggi sejak Oktober 2021. Para ekonom memperkirakan untuk 245.000 klaim.

Selama acara di Northern Michigan University di Marquette, Michigan, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan Kamis (11/5) bahwa periode suku bunga tinggi yang diperpanjang akan diperlukan jika inflasi tetap tinggi.

"Ada beberapa bukti inflasi tinggi turun, tapi sejauh ini cukup bertahan," kata Kashkari.

Tetapi prospek perlambatan ekonomi di Amerika Serikat dan kemungkinan gagal bayar negara itu membuat logam kuning itu berada di atas 2.000 dolar AS, di tengah permintaan safe haven yang stabil.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli turun 1,234 dolar AS atau 4,81 persen, menjadi ditutup pada 24,424 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli terpangkas 14,10 dolar AS atau 1,26 persen, menjadi menetap pada 1.105 dolar AS per ounce.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Nasional
Mutasi Polri, Pejabat Divpr...
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.