Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia Berpotensi Meraih Rp8.000 Triliun dari Ekonomi Karbon

📅 Jumat, 12 Mei 2023, 00:00 WIB | Oleh:
Indonesia Berpotensi Meraih Rp8.000 Triliun dari Ekonomi Karbon Doc: ANTARA/SANYA DINDA
Ket. Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad (kedua dari kanan) dalam diskusi publik di Jakarta, Kamis (11/5).

JAKARTA - Indonesia berpotensi meraih dana sebesar 8.000 triliun rupiah dari ekonomi karbon, yang bersumber dari hutan hujan tropis seluas 125,8 juta hektare, hutan mangrove 3,31 juta hektare, dan hutan gambut 7,5 juta hektare.

Hutan hujan tropis Indonesia diperkirakan dapat menyerap emisi karbon hingga 25,18 miliar ton setara karbondioksida per tahun, hutan mangrove 33 miliar ton setara karbon, dan hutan gambut 55 miliar ton setara karbon.

"Jika Indonesia menjual kredit karbon dengan harga lima dollar AS per ton di pasar karbon, potensi pendapatan Indonesia sebesar 8.000 triliun rupiah per tahun," kata anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad, dalam diskusi publik menyambut bursa karbon, di Jakarta, Kamis (11/5).

Untuk itu, tambah Kamrussamad, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan yang menjadi dasar pengaturan terkait bursa karbon yang akan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Seperti dikutip dari Antara, Kamrussamad mengatakan OJK mesti jelas menempatkan lembaganya sebagai pengatur dan pengawas, serta mendengarkan kepentingan seluruh pemangku kepentingan bursa karbon.

"Penyelenggara bursa karbon juga dapat dipisahkan dari bursa efek, sebagaimana merujuk pada beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia," katanya.

Pengawasan dari OJK

OJK juga diminta agar menjalankan pengaturan dan pengawasan sesuai UU P2SK yang mana OJK perlu terbuka kepada seluruh pelaku usaha yang ingin mendapatkan izin sebagai operator bursa karbon.

"OJK turut memiliki kewajiban membangun infrastruktur perdagangan karbon, menerbitkan peraturan terkait penyelenggaraan bursa karbon, dan mengendalikan perdagangan karbon," katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel, menekankan komitmen Indonesia menuju net zero emissions atau nol emisi karbon tahun 2060, perlu dibahas bersama secara tuntas karena menyangkut kepentingan dunia.

"Kalau kita bicara iklim, climate, ini penting untuk kita bahas. Kita bukan hanya sekadar membahas, tapi apa tindak lanjut ke depan, karena ini akan berpengaruh juga tidak hanya masalah hutan, tapi juga masalah pertanian karena ada krisis pangan akibat geopolitik global," ujar Rachmat Gobel.

Rachmat Gobel mengatakan persoalan nol emisi karbon tidak bisa diselesaikan oleh Kementerian Kehutanan saja, namun juga bersama kementerian lain seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan, karena turut menyangkut anggaran.

Selain itu, perlu juga dukungan dari pihak asing untuk berinvestasi pada upaya Indonesia mewujudkan nol emisi karbon tahun 2060.

"Nah, di sini makanya perlu Komisi VI DPR. Kebijakan apa yang bisa diberikan kalau kita butuh investor dari luar. Harus ada insentif yang menarik. Jangan hanya dari tambang saja kita kasih insentif tax holiday dan sebagainya, tapi untuk hutan juga harus ada," jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

31 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

41 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

50 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.