Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ribetnya Karier Dosen di Indonesia, Monopoli Pemerintah dan Logika Birokrasi PT

📅 Sabtu, 15 Apr 2023, 10:45 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kekisruhan dan polemik terkait muat ulang data kinerja dosen ini merupakan fenomena gunung es masalah tata kelola pendidikan tinggi di Indonesia yang masih didominasi oleh pemerintah dan praktik-praktik birokrasi.

Kondisi ini harusnya bisa kita gunakan sebagai momentum perbaikan bagi semua pihak.

Pemerintah seharusnya menunjukkan kesungguhan politik untuk memperbaiki tata kelola pendidikan tinggi yang merujuk pada praktik-praktik baik di negara lain. Hal ini, misalnya, dapat dimulai dengan mengurangi keterlibatan kementerian atau lembaga pemerintah dalam tata kelola institusi pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta. Pemerintah dapat "mengembalikan" status kepegawaian kepada perguruan tinggi, dan menyerahkan penilaian kinerja kepada komunitas akademik.

Pemerintah seharusnya mengambil peran dalam perencanaan secara makro dan memberikan dukungan pendanaan yang dikelola oleh lembaga independen. Pemerintah tidak perlu melakukan manajemen secara mikro seperti yang terjadi saat ini.

Untuk mendukung transformasi ini, di sisi lain, institusi pendidikan tinggi selayaknya berbenah dalam mendukung pengelolaan institusi.

Ini termasuk pengelolaan dan pembaruan data pegawai dan dosen yang lebih tertib dan berkelanjutan, bukan hanya untuk keperluan insidental semata saja, misalnya ketika tiba saatnya proses akreditasi. Hal ini tentu merupakan salah satu upaya dalam menunjukkan kesiapan dan kemandirian dalam mengelola organisasi.

Yang tak kalah pentingnya adalah peningkatan disiplin para dosen, terutamanya dalam mengelola data portofolio terkait kinerja mereka.

Menurut diskusi yang berkembang di media sosial, misalnya, salah satu hal yang memperparah kekisruhan input ulang data yang terjadi sekarang adalah banyaknya dosen yang tidak memiliki rekap data terkait karya dan kinerjanya. Bahkan ada indikasi bahwa sebagian dosen malas dan pasrah dalam mengurus kariernya - meski ini bisa dipahami mengingat prospek dan kondisi ketenagakerjaan mereka yang rentan dan berinsentif rendah.

Pengurangan monopoli pemerintah dalam tata kelola institusi, ditambah peningkatan kapasitas dari institusi pendidikan tinggi dan dosen dalam menerapkan praktik baik pengelolaan institusi, dapat menjadi salah satu kunci penting dalam perbaikan dunia pendidikan tinggi di Indonesia.The Conversation

Hali Aprimadya, PhD Student, Crawford School of Public Policy, Australian National University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

57 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.