Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Teknologi Memperluas Veganisme dan Gaya Hidup Ramah Iklim

📅 Minggu, 09 Apr 2023, 10:35 WIB | Oleh: Tim Penulis

Teknologi yang lain misalnya pemrosesan bertekanan tinggi atau high-pressure processing (HPP) untuk produk pangan organik. Teknologi ini dapat meningkatkan keamanan pangan dengan mematikan patogen sekaligus mempertahankan masa simpannya. Namun aplikasi HPP perlu dipelajari agar tidak merusak protein-protein nabati.

Adapun kedua teknologi ini hanya diterapkan untuk bahan pangan berbasis nabati. Masih ada tantangan untuk mengolah bahan tersebut menjadi makanan yang lezat dan bernutrisi. Misalnya, teknologi untuk perubahan struktur protein nabati menjadi serat dan gel. Harapannya, tekstur makanan berbasis nabati bisa diubah hingga menyerupai daging.

Teknologi modifikasi struktur protein nabati tersebut ke depannya bakal sering dikombinasi dengan teknologi 3D food printing. Saat ini, usaha rintisan yang mengembangkan dan menggunakan teknologi mulai bermunculan. Contohnya adalah teknologi 3D printing untuk memproduksi burger berbasis nabati yang digagas oleh perusahaan rintisan asal Israel, SavorEat.

Teknologi pencetakan makanan ini memungkinkan pelanggan untuk memilih berapa banyak lemak dan protein yang mereka inginkan di setiap burger nabati (plant-based burger). Proses memasak membutuhkan waktu sekitar 6 menit.

Teknik 3D food printing memungkinkan kita untuk mempertahankan kandungan protein dan senyawa fungsional alami lain dalam makanan berbasis nabati. Teknik ini pun diprediksi akan menjadi masa depan kemajuan pangan di dunia. Sebab, selain hemat waktu, teknologi 3D food printing juga menawarkan kemudahan untuk menyesuaikan bahan dan nutrisi dalam pangan, meminimalkan bahan tambahan kimia dalam pangan, dan mendorong aspek keberlanjutan (sustainability) dalam sistem pangan.

Terobosan mengenai plant-based meat ini mulai merebak ke dalam pasar modern dan telah menjadi segmen pasar yang baru. Seiring waktu, inovasi serta solusi bisa jadi akan semakin efektif, dan intensitasnya bisa terus meningkat.

Tren ini bisa menjadi peluang besar serta kesempatan yang baik bagi para ahli pangan - khususnya di Indonesia - untuk ikut serta dalam berkontribusi dan berkarya untuk kemajuan dan masa depan dunia pangan.The Conversation

Tatas Hardo Panintingjati Brotosudarmo, Associate professor, Universitas Ciputra

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Rudal Iran Hantam Dua Kapal...
Megapolitan
Sudin SDA Perbaiki Tanggul ...
Indonesia Bisa Lolos Middle Income Trap, Berikut Kuncinya dari Pakar UI

Indonesia Bisa Lolos Middle Income Trap, Berikut Kuncinya dari Pakar UI

14 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.