Keberpihakan pada Petani Begitu Lemah
📅 Selasa, 04 Apr 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiKeputusan impor itu juga menunjukkan betapa keberpihakan pada petani dalam negeri begitu lemah. Jika persoalannya Bulog tidak bisa menyerap beras/gabah karena kalah bersaing harga dengan pelaku usaha lain maka seharusnya kapasitas mereka diperkuat dari sisi daya belinya.
"Semoga saja keputusan impor dua juta ton ini didasarkan pada hasil perencanaan berbasis data akurat, bukan kepentingan sepihak atau pihak tertentu, apalagi untuk melayani kepentingan kelompok dan politik ekonomi," sindir Said.
"Buffer Stock"
Dihubungi terpisah, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan turunnya harga gabah kering mengindikasikan ada beras impor yang sudah masuk ke pasar. Hal itu tidak sesuai dengan janji Kepala Bapanas yang menyatakan bahwa beras impor akan ditahan di negara asal dan hanya digunakan sebagai buffer stock.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ini soal perencanaan dan komitmen Bapanas untuk melindungi produsen pangan," kata Dwijono.
Para pengambil keputusan, katanya, harus konsekuen dengan perencanaan dan eksekusi di lapangan. Petani sebagai produsen pangan harus jadi pihak utama yang harus dilindungi.
"Sudah lama petani tidak mendapat untung, dan saat sekarang bisa sedikit mengambil untung dengan harga gabah yang baik. Jangan sampai mereka merugi kembali karena impor!" pungkas Dwijono.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!