Keberpihakan pada Petani Begitu Lemah
📅 Selasa, 04 Apr 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS - kj/ones
» Keputusan impor saat panen berlangsung sangat aneh.
» Sudah lama petani tidak mendapat untung.
» Petani sebagai produsen pangan harus jadi pihak utama yang dilindungi.
JAKARTA - Pernyataan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, soal impor beras secara terukur tidak menjatuhkan harga di tingkat petani dinilai ngawur. Faktanya, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (3/4) melaporkan harga gabah dan beras pada Maret 2023 turun dibandingkan bulan sebelumnya. Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani tercatat turun 7,65 persen dan beras di penggilingan turun 1,31 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan selama Maret 2023, rata-rata harga GKP di tingkat petani 5.274 rupiah per kilogram (kg). Sementara di tingkat penggilingan rata-rata harga sesar 5.403 rupiah per kg.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, rata-rata harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani menurun sebesar 5,99 persen secara bulanan menjadi 6.051 rupiah per kg. Adapun di tingkat penggilingan harga rata-ratanya sebesar 6.178 rupiah per kg atau turun 5,78 persen.
Sedangkan harga gabah luar kualitas di tingkat petani adalah 5.015 rupiah per kg atau turun 7,68 persen dan di tingkat penggilingan 5.136 per kg atau turun 7,45 persen. Begitu juga harga beras di penggilingan, kata Pudji, mulai turun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Per Maret 2023, harga beras penggilingan menurun 1,31 persen secara bulanan.
Rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan tercatat sebesar 11.681 rupiah per kg pada Maret 2023, turun 1,16 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan beras kualitas medium di penggilingan seharga 11.122 per kg atau turun 1,58 persen. Kemudian, rata-rata harga beras luar kualitas di penggilingan 10.476 per kg atau naik 0,08 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Arief sendiri dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Senin (3/4), mengatakan impor beras secara terukur tidak menjatuhkan harga di tingkat petani.
"Jadi, kami sampaikan bahwa ini importasi yang terukur. Tidak membabi buta untuk menjatuhkan juga," kata Arief.
Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, yang diminta pendapatnya mengatakan keputusan impor sangat aneh. Sebab, di saat panen sedang berlangsung, Bapanas malah mengumumkan impor. Pengumuman pun dibuat kesan seolah-olah Bulog sudah pesimistis atas kemampuannya menyerap beras dari hasil panen.
"Menurut saya, pengumuman ini baiknya dilakukan setelah realisasi serapan dilakukan, sehingga jadi terukur sebenarnya berapa kebutuhan setelah dikurangi dari produksi dalam negeri," kata Said.
Bapanas yang awalnya diharapkan bisa memperjuangkan produksi petani, setelah berjalan ternyata tetap lebih memilih impor karena murah dan mudah. Padahal, semua pihak tahu, implikasi pengumuman impor menjelang atau bahkan di tengah panen raya selalu memberikan efek psikologis pasar gabah.
"Pengalaman selama ini menunjukkan, impor menekan harga di tingkat petani. Turun hingga seribu rupiah terlebih di musim rendeng," paparnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!