Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tak Lama Lagi, Salju Abadi di Puncak Gunung Jayawijaya akan Punah

📅 Selasa, 28 Mar 2023, 11:49 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tak Lama Lagi, Salju Abadi di Puncak Gunung Jayawijaya akan Punah Doc: Wikimedia Commons/Arfani Mujib
Ket. Sudirman Range di dekat Puncak Jaya (Carstenz) pada 2015.

Donaldi S. Permana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Gletser atau lapisan es tropis terakhir yang dijuluki 'salju abadi' di dekat Puncak Jaya, Papua, menyusut sangat cepat.

Luas tutupan es salju berketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut ini menciut sampai 98%, dari 19,3 km2 pada 1850 menjadi hanya 0,34 km2 pada 2020.

Data terbaru dari satelit Sentinel-2A juga menunjukkan penyusutan luas tutupan es Papua tak terbendung: menjadi sebesar 0,27 km2 pada Juli 2021 dan 0,23 km2 pada April 2022.

Selain luasan yang berkurang, es juga kian menipis. Ini terlihat dari hasil pemantauan berkala oleh tim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan PT Freeport Indonesia (PTFI) sejak 2010 hingga 2022. Temuan turut diperkuat dengan hasil penelitian BMKG bersama The Ohio State University, Amerika Serikat.

Selama 2010-2015, kami mendapati es menipis sekitar 5 m dengan laju penipisan 1,05 m per tahun. Pada November 2015-2016, penipisan es sangat signifikan: hingga 5 m. Ini kemungkinan disebabkan oleh efek El Niño 2015-2016 yang amat kuat.

Pada awal 2021, berdasarkan foto udara, kami mendapati ketebalan es telah berkurang 12,5 m lagi sejak November 2016 atau setara dengan laju penipisan sekitar 2,5 m per tahun.

Kami menggunakan pemodelan CORDEX-SEA dan data observasi untuk memprediksi hilangnya tutupan es Papua berdasarkan proyeksi iklim di masa depan. Hasilnya, tutupan es di Puncak Jaya diperkirakan hilang pada tahun 2026.

Namun, laju penipisan gletser bisa lebih parah. Gletser dapat habis total paling cepat pada tahun 2024. Risiko ini semakin besar karena El Niño-yang membuat iklim bumi lebih hangat-dapat terjadi pada tahun ini.

Semua hasil pengamatan di atas terangkum dalam artikel yang saya tulis bersama kolega dan terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences Amerika Serikat (PNAS) pada 2019.

Mengapa Gletser Tak Abadi

Gletser Papua merupakan gletser tropis terakhir yang tersisa di wilayah Pasifik Barat. Puncak Jaya memiliki salju karena di ketinggian tersebut suhu sangat rendah (

Gletser Papua diperkirakan sudah mencair sejak revolusi industri atau sekitar 1850. Emisi dari aktivitas industri meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sehingga suhu permukaan bumi meningkat. Tren serupa juga terjadi di gletser tropis lainnya di Amerika Selatan dan Afrika.

Salah satu faktor penyebab pencairan es Papua adalah peningkatan ketinggian lapisan titik beku yang melampaui ketinggian gletser sejak awal 2000 akibat iklim yang berubah. Peningkatan ketinggian lapisan tersebut membuat suhu di sekitar gletser cenderung lebih hangat dari sebelumnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

46 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.