Wow...Pengantin Pesanan Usia Dini Itu Minta Pulang ke Tanah Air
📅 Minggu, 26 Mar 2023, 04:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPengantin pesanan sudah lama menjadi pembicaraan serius di tingkat menteri antar-kedua negara. Meskipun jumlah kasusnya sudah berkurang secara signifikan, setidaknya dalam 3 tahun terakhir, terutama sejak pandemi COVID-19 melanda, fenomena pengantin pesanan masih saja terjadi.
Mar salah seoranf di antara deretan kasus pengantin pesanan yang tersisa.
Tidak sedikit pengantin pesanan yang melarikan diri dan meminta perlindungan di KBRI Beijing karena merasa sudah tidak tahan hidup menderita bersama suaminya yang berkewarganegaraan China.
Kalau pun harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, Mar bukanlah perempuan Indonesia pertama yang tega melakukan hal itu. Sudah tidak terhitung lagi di antara para pengantin pesanan rela meninggalkan darah dagingnya sendiri di China lantaran kebahagiaan hidup bersama suami seperti yang diidamkannya tak kunjung nyata.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pilihan Hidup
Bagi sebagian perempuan Indonesia, pengantin pesanan menjadi pilihan hidupnya, terlebih untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga di kampung halaman.
Tidak ada paksaan untuk menjadi pengantin pesanan. Mereka pun mengenal calon suaminya dan bersepakat untuk tinggal bersama di China. Perkenalan dengan calon suami tergolong singkat. Begitu kedua calon mempelai cocok, maka proses pernikahan pun bisa dilangsungkan, tentunya dalam tempo singkat juga. Proses administrasi untuk pengurusan visa juga dipercepat agar mempelai pria yang datang ke Indonesia bisa segera membawa pulang istri yang baru dinikahinya itu ke kampung halamannya di China.
Fenomena pengantin pesanan ini ada karena faktorsupply and demand. Pria yang kebanyakan dari pelosok desa di China membutuhkan pendamping yang standar hidupnya biasa-biasa saja, sedangkan mempelai perempuan terdesak materi agar bisa menutupi kebutuhan finansialnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk mendapatkan pendamping hidup dari Indonesia, mereka rela merogoh kocek dalam-dalam. Pria China yang mayoritas bekerja di ladang itu bersedia mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah agar bisa membawa pulang perempuan idamannya dari Indonesia itu. Sayangnya, uang sebanyak itu tidak dinikmati sendiri oleh mempelai perempuan dan orang tuanya.
Ada makelar di dunia pengantin pesanan. Merekalah yang mendapatkan porsi terbesar dari uang para lelaki China pemburu istri berkewarganegaraan Indonesia itu. Biaya administrasi, visa, dan tiket pesawat menuju kampung halaman si mempelai pria juga mengambil porsi yang tidak sedikit.
Dengan adanya uang, semua urusan menjadi lancar.
Mar yang lahir dan besar di gemerlapnyaIbu Kota Jakarta bersedia dinikahi pria kampung di pelosok China, mungkin juga, karena terobsesi derajat hidupnya kelak akan terangkat. Obsesi itulah yang mengalahkan akal sehat Mar.
Hanya bermodalkan visa kunjungan singkat, pada tahun 2017,Mar yang masih berusia 19 tahun rela meninggalkan kedua orang tuanya di Jakarta Barat demi si pria idamannya itu.
Padahal Mar tidak pernah tahu di mana dia akan tinggal dan apa mata pencaharian suaminya itu.
Sembilan belas tahun bukanlah usia yang sah bagi Mar untuk melangsungkan pernikahan di China. Di sinilah masalah itu bermula. Aparat setempat menangkapnya atas tuduhan pelanggaran ganda karena selain belum cukup umur untuk menikah, izin tinggalnya telah melewati batas waktu yang ditentukan.
Otoritas setempat telah memberikan kesempatan kepada Mar agar mengurus dokumen yang dibutuhkan. Namun tak satu pun dari keluarga Mar di Indonesia yang bersedia membantunya sehingga sampai memiliki dua anak pun jalan menuju legalitas pernikahannya tak ada ujungnya dan justru berakhir dengan deportasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!