Wow...Pengantin Pesanan Usia Dini Itu Minta Pulang ke Tanah Air
📅 Minggu, 26 Mar 2023, 04:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
Beijing - "Mama ... mama ..!" Seorang bocah kecil memegang erat-erat jaket yang dikenakan ibunya tatkala tim dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing memasuki halaman sebuah rumah di pelosok desa di wilayah timur China.
Meskipun dipanggil berkali-kali, sang ibu sama sekali tak menggubrisnya karena sedang serius mendengarkan arahan dari tim yang diketuai Atase Imigrasi KBRI Beijing Raden Fitri Saptaji.
"Begitu nanti saya beri SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor), kamu harus segera pulang," kata Fitri mengingatkan.
Ucapan yang berarti perintah itu sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari lawan bicaranya yang mulai terusik oleh rengekan si bocah berusia 3 tahun itu.
"Kamungertinggak?" tanya Fitri dengan nada bicara mulai meninggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sambil mengangkat anaknya ke pangkuannya, perempuan itu menganggukkan kepala.
Mar, demikian nama panggilan perempuan berusia 25 tahun tersebut, jelas mengerti instruksi yang disampaikan Atase Imigrasi.
Tatapan matanya yang kosong menunjukkan kebimbangan yang sangat mendalam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Suaminya, yang bekerja sebagai petani, terus menguntitnya sejak dari tempat tinggalnya hingga menuju rumah keluarga Dedeh di Desa Xinyang yang jauh dari pusat Kota Dezhou, Provinsi Shandong.
Dedeh, perempuan asal Subang, Jawa Barat, merelakan rumah yang ditinggali bersama suaminya di Desa Xinyang, sebagai tempat untuk pengambilan foto dan data biometrik Mar. Kedua mertuanya yang penduduk asli desa itu memberikan sambutan yang luar biasa kepada tim KBRI Beijing dengan menyuguhkan beraneka ragam jenis makanan.
Saat tim KBRI Beijing melakukan persiapan pengambilan foto diri Mar untuk keperluan penerbitan SPLP, sang suami tak mau jauh-jauh dari sang istri. Entah sengaja atau tidak, pria itu bersembunyi di balik layar putih yang berfungsi sebagai latar foto sang istri.
Kedatangan tim KBRI yang jauh-jauh melakukan perjalanan lebih dari 1.000 kilometer dari Beijing dan Qingdao pada Minggu (26/2/2023) itu bagaikan pisau bermata dua bagi Mar.
Dengan mendapatkan SPLP, mimpi Mar untuk bisa bertemu kedua orang tua di Tanah Air yang merindukannya sejak lama segera terwujud dalam waktu dekat.
Namun dokumen perjalanan berbentuk buku kecil berwarna hijau itu akan memisahkan Mar dari suami dan kedua anak yang dilahirkannya dalam jangka waktu yang tidak menentu.
Boleh jadi,Mar akan bernasib sama dengan pengantin-pengantin pesanan lainnya yang dalam 5 tahun terakhir menjadi batu sandungan dalam kerangka kemitraan strategis komprehensif Indonesia-China.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!