Bank Dunia Mencari Lebih Banyak Dana untuk Atasi Dampak Wabah dan Perang
📅 Sabtu, 25 Mar 2023, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: JIM WATSON / AFP
WASHINGTON - Presiden Bank Dunia, David Malpass, pada Kamis (23/3), menetapkan peta jalan baru untuk partisipasi sektor swasta dalam pembiayaan proyek di negara-negara berkembang karena kebutuhan pembiayaan tahunan membengkak menjadi 2,4 triliun dollar AS.
Kebutuhan pembiayaan tahunan yang sangat besar, perkiraan Bank Dunia yang baru, dapat mengatasi dampak perubahan iklim, perang, dan pandemi, dan modal swasta "penting" untuk memenuhi kebutuhan itu.
Seperti dikutip dari Antara, Malpass mengumumkan pengunduran dirinya ke Bank Dunia pada Februari dan pemberi pinjaman mengharapkan untuk memilih penggantinya pada awal Mei.
Program ini didasarkan pada tiga pilar, tambahnya, yang pertama bertujuan membantu aliran modal lebih baik dengan memberikan stabilitas makro dan transparansi, sambil membangun bank data yang mendukung pengambilan keputusan.
"Produk analitik ini akan fokus pada tindakan yang perlu diambil negara untuk iklim investasi yang sehat, pasar yang kompetitif, dan peran negara yang seimbang dalam perekonomian," kata Malpass di acara yang diselenggarakan oleh Center for Strategic and International Studies di Washington.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tarik Modal Swasta
Peta jalan tersebut kemudian beralih ke penanganan masalah likuiditas, sembari berfokus pada peluang bagi Badan Usaha Milik Negara untuk menarik modal swasta. Terakhir, ini bertujuan menciptakan pasar sekuritas kelas investasi yang akan menarik investor institusional.
"Aspirasi kami dari waktu ke waktu adalah untuk melihat penciptaan kelas aset yang besar, dinamis, dan dapat diinvestasikan untuk infrastruktur di negara-negara berkembang yang menjangkau perbatasan dan sektor untuk mendiversifikasi risiko dan mencapai biaya pembiayaan yang lebih rendah," kata Malpass.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Inisiatif ini akan mendorong pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan ramah lingkungan, mengurangi karbon, meningkatkan akses energi, mengurangi kemiskinan, dan mencapai kecepatan digitalisasi global yang dibutuhkan," katanya.
Sebelumnya, ekonom senior Bank Dunia, Wael Mansour, menyebutkan global saat ini sedang mengalami polycrisis atau krisis simultan lantaran kini berada dalam volatilitas dengan kombinasi krisis
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!