Bunga Kredit Bank Bahayakan Fondasi Ekonomi Indonesia
📅 Selasa, 14 Mar 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiDihubungi terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, mengatakan NIM yang tinggi di Indonesia dipengaruhi operational cost yang tinggi. Di luar biaya provisi sekitar 3-5 persen, sedangkan di Hong Kong hanya 1 persen.
Turun Tangan
Dari Surabaya, pengamat ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya), Bambang Budiarto, mengatakan BI harus turun tangan karena pembebanan suku bunga berlebihan pada nasabah akan berimbas simultan secara nasional.
"NIM yang tinggi mengindikasikan bank membebankan suku bunga yang terlalu tinggi pada nasabahnya atau tidak memperoleh sumber dana dengan biaya yang efisien. Hal inilah yang berbahaya. Saat ini, memang belum ada ketentuan yang mengatur besaran NIM, jadi sudah sewajarnya jika BI menunjukkan perannya," tegas Bambang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!