Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bunga Kredit Bank Bahayakan Fondasi Ekonomi Indonesia

📅 Selasa, 14 Mar 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Lebih Bahaya

Perlunya membenahi kebijakan moneter yang membuat bank sebagai "anak emas" itu karena sektor jasa keuangan sewaktu-waktu bisa goyah jika dalam pengelolaannya kurang prudent.

Kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat (AS) pekan lalu, misalnya, menjadikan para pemerhati keuangan global terhenyak. Betapa perbankan di negara sekelas AS saja bisa ambruk, apalagi bank-bank di Indonesia yang parah fondasinya dan banyak berharap pada dana-dana pemerintah.

Kalau mereka mengalami kesulitan, Kementerian Keuangan dan BI dipastikan tidak akan mempunyai kekuatan untuk menopang kejatuhan mereka. Kalau dipaksa kembali menalangi, rupiah yang akan hancur dikorbankan karena mau tidak mau akan cetak duit.

Penjaminan pun belum teruji, karena selama ini baru menangani satu bank konvensional yaitu Bank Century, selebihnya menangani resolusi Bank Perekreditan Rakyat (BPR) atau kini berganti jadi Bank Perekonomian Rakyat.

Sebab itu, kata Maruf, BI harus melakukan langkah preventif dengan menaikkan suku bunga agar tidak sewaktu-waktu menimbulkan kepanikan di sektor keuangan seperti saat krisis moneter yang membuat rupiah terperosok tajam dari 1.500 rupiah per dollar AS menjadi 15.000 per dollar AS.

Anomali Sistem Perbankan

Direktur Eksekutuf, Segara Research Institute, Piter Abdullah, mengatakan NIM yang sangat tinggi diperbankan menunjukkan bargaining position bank yang terlalu besar. NIM yang sangat tinggi sekaligus menunjukkan anomali sistem perbankan.

"Perbankan kita untungnya besar tetapi sangat tidak efisien," ujar Piter.

Bargaining position yang terlalu besar, jelasnya, menyebabkan bank kurang bergairah menjalankan fungsi intermediasi. Penyaluran kredit terbatas, terlihat pada rasio kredit terhadap gross domestic product (GDP) yang sangat rendah dibandingkan negara lain.

Padahal, penyaluran kredit, kata Piter, sangat berkaitan dengan investasi. Semakin kecil kredit bank, semakin rendah investasi, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak optimal.

Dengan NIM yang terlampau tinggi membuat sektor riil terdampak. Dampak buruknya adalah biaya investasi menjadi mahal dan pada akhirnya salah satu pemicu high cost economy di Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
DLH Cirebon Kerahkan 9 Truk...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
Olahraga
Sabalengka di Luar Dugaan D...

Tim Piala Dunia, Maroko Dapat Menjadi Kuda Hitam

41 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Maroko Dap...
Olahraga
Laga Generasi Baru Menuju F...

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.