Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ombudsman Sebut Peserta JKN Dibatasi Praktik Kuota Layanan

📅 Rabu, 01 Mar 2023, 01:00 WIB | Oleh:
Ombudsman Sebut Peserta JKN Dibatasi Praktik Kuota Layanan Doc: Antara
Ket. Anggota Ombudsman RI, Robert Na Endi Jaweng

JAKARTA - Ombudsman RI menyebut adanya kuota layanan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), padahal hal tersebut tidak tercantum dalam peraturan perundang-undangan. Hal tersebut diketahui dari banyaknya laporan ke Ombudsman dari masyarakat.

"Ada semacam kuota layanan yang dialami masyarakat. Dalam peraturan perundang-undangan tidak ada pengaturan soal kuota. Fakta dan praktik di lapangan kuota itu ada," ujar Anggota Ombudsman RI, Robert Na Endi Jaweng, dalam Konferensi Pers, di Jakarta, Selasa (28/2).

Robert mengatakan, dalam penyelenggaraan layanan kesehatan dihadapkan pada keterbatasan kapasitas, informasi, akses, dan sebagainya. Hal tersebut membuat publik terutama pasien menghadapi masalah serius di lapangan baik fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun tingkat lanjut.

Dia menyebut, masalah terkait kuota layanan mencakup waktu pelayanan serta jenis layanan yang diterima pasien. Padahal, hak masyarakat dalam mendapat pelayanan kesehatan yang optimal harus dijamin pemerintah.

"Keterbatasan ini harus ditemukan strategi yang ditempuh baik tingkat kebijakan maupun tingkat operasional sampai faskes tingkat pertama sehingga akses masyarakat tetap terjamin," jelasnya.

Pekerjaan Serius

Robert menyarankan, pemerintah baik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) maupun Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan harus memberikan penjelasan terang benderang terkait hal ini sehingga masyarakat tahu proses pelayanannya.

"Fakta di lapangan soal standar pelayanan masih jadi pekerjaan serius pemerintah kemudian hak publik terhadap informasi harus dipenuhi," tandasnya.

Asisten Ombudsman RI, Bellinda W. Dewanty, menyebut, total laporan terkait program JKN pada tahun 2021 sampai tahun 2022 sebanyak 700. Adapun trennya mengalami kenaikan di mana tahun 2021 sebanyak 300 menjadi 400 pada tahun 2022. "Hal ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan masih belum optimal," katanya.

Dia mengatakan, terkait adanya masalah kuota dalam penyelenggaraan program JKN disebabkan tidak ada standarisasi atau regulasi. Hal tersebut membuat fasilitas kesehatan secara sepihak menentukan jumlah kuota tersebut.

"Adanya pemberlakuan kuota mengakibatkan terjadinya diskriminasi dalam pemberian layanan pada pasien BPJS Kesehatan. Hal tersebut karena adanya keterbatasan kemampuan dan kurangnya dokter, ketersediaan fasilitas, serta perbedaan pembiayaan bagi fasilitas kesehatan," terangnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

52 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

55 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.