Adegan Kekerasan dalam Film Sangat Disukai Banyak Orang, Kenapa?
📅 Minggu, 26 Feb 2023, 14:41 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Zhaobao/Twitter/Heosungtae
Simon McCarthy-Jones, Trinity College Dublin
Pada Oktober 2021, lebih dari 100 juta orang menyaksikan film penuh darah Squid Game di Netflix.
Pembahasan mengenai dampak buruk atas kekerasan yang dimunculkan di layar bagi kita semua telah dipelajari secara luas. Konsesus publik menganggap tontonan semacam ini berdampak negatif. Tapi, pertanyaan mengenai mengapa kita gemar menyaksikan adegan kekerasan di suatu layar belum mendapatkan perhatian lebih.
Kematian, darah, dan kekerasan selalu menarik perhatian. Warga Romawi Kuno berbondong-bondong menghadiri pembantaian di Colosseum. Beberapa abad setelahnya, eksekusi publik menjadi box-office.
Di era modern, sutradara Quentin Tarantino meyakini bahwa "Dalam perfilman, kekerasan itu keren. Saya menyukainya."
Sebaiknya Anda baca juga:
Banyak dari kita tampaknya setuju dengannya.
Sebuah studi menemukan sekitar 90% film yang berpendapatan tinggi menampilkan adegan karakter utama yang terlibat dalam kekerasan.
Siapa Penonton Adegan Kekerasan?
Sebaiknya Anda baca juga:
Beberapa orang memang cenderung menyukai adegan kekerasan yang ditampilkan dalam media. Misalnya, populasi lelaki yang agresif dan memiliki sedikit empati, cenderung dapat menikmati adegan kekerasan.
Ada juga ciri-ciri kepribadian tertentu yang memang menyukai kekerasan. Seorang ekstrovert, yang mencari kesenangan, maupun orang yang lebih terbuka terhadap pengalaman estetik juga lebih suka menonton film kekerasan.
Sebaliknya, orang-orang dengan tingkat keramahan yang tinggi - memiliki kerendahan hati dan simpati terhadap orang lain - cenderung kurang menyukai adegan kekerasan.
Kenapa Kecenderungan itu Terjadi?
Ada satu teori yang menyebutkan bahwa menonton kekerasan adalah suatu bentuk katarsis, menguras kelebihan agresif kita. Tapi gagasan ini tidak didukung oleh bukti yang sahih.
Ketika seseorang yang sedang marah menonton konten kekerasan, mereka malah cenderung semakin marah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!