Lagu Berbahasa Daerah Kembali Digemari Kaum Muda
📅 Rabu, 22 Feb 2023, 20:31 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA
Tampilan boleh gahar dengan gaya rambut gondrong sebahu, tapi suara mendiang Didi Kempot yang tenar dengan lagu-lagu meratapi kesedihan dalam bahasa Jawa bisa menyentuh hati Cornel Yobellakama Innoncensi, yang biasa dipanggil Innos.
Selain Didi Kempot, telinga mahasiswa semester dua Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, ini juga akrab dengan suara Denny Caknan, Ndarboy Genk, Kukuh Prasetya, atau NDX. Karawitan dan berbagai lagu dari genre campur sari berbahasa Jawa juga ia gemari.
Buat Innos, mendengarkan lagu-lagu berbahasa Jawa bukan hal asing karena orang tuanya rutin memutar lagu-lagu itu setiap hari Minggu pagi. Kebiasaan ini terbawa hingga Innos dewasa.
Lagu berbahasa daerah tampaknya memang punya tempat tersendiri di hati generasi Z yang lahir di rentang tahun 1996 sampai dengan tahun 2009. Apalagi, saat ini platform media sosial memudahkan mereka untuk lebih mencari tahu tentang lagu-lagu ini. Apa keistimewaannya?
"Dengerin lagu bahasa Jawa yang temanya cinta-cintaan dan galau itu relate ke anak muda. Kata-katanya cukup unik dan mengandung lirik sederhana yang dekat kehidupan sehari-hari," kata Innos kepada DW Indonesia melalui sambungan telepon.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada satu tembang favorit Innos berjudul Pingal yang dinyanyikan oleh Denny Caknan yang menceritakan seputar kegundahan hati seseorang yang tidak bisa meraih hati orang yang ia cinta.
"Ibarat esuk mendung, awan aku kudanan. Sore mbok larani, bengi tak tangisi," kata Innos mengutip sepenggal lirik lagu Pingal. Secara harafiah artinya pagi menghadapi mendung, siangnya kehujanan, sore kamu menyakiti aku, malamnya aku menangisi kamu.
Lagu itu menceritakan kegalauan yang dihadapi seseorang dalam satu hari penuh untuk mengejar tambatan hatinya. Lagu itu pun menjadi pemantik candaan Innos dengan teman-temannya karena pernah mengalami pengalaman serupa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara di Padang, Sumatera Barat, Sonya Andomo menyanyikan salah satu lagu kesukaannya yang berjudul Batu Tagak. Lagu berbahasa Minang itu menceritakan ratapan seseorang yang pergi meninggalkan bumi Minangkabau untuk merantau. "Di tengah perantauannya, orang tersebut merindukan ibunya dan meminta sang ibu untuk bersabar karena belum membawa kesuksesan," tutur Sonya.
Sonya, jurnalis berusia 26 tahun ini mengaku hampir setiap hari mendengarkan lagu-lagu berbahasa Minang. Selain itu, ia pun sering menyanyikannya saat bersama teman-teman.
"Karaokean lagu bahasa Minang dengan teman-teman karena liriknya dekat secara emosi." Selain itu Sonya menyukai lagu berbahasa Minang karena lirik dalam lagu bahasa Minang lebih menggunakan idiom atau kiasan untuk menyampaikan sebuah makna.
Media Sosial Bantu Hapus Stereotip
Menurut Eka Meigalia, dosen Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang, mengatakan kini banyak generasi muda yang menikmati lagu-lagu berbahasa Minang lewat berbagai platform digital. Banyak lagu berbahasa Minang yang diaransemen ulang untuk dijadikan lagu pengantar di konten-konten video reels atau TikTok.
Menurut dia, sebelum ada platform media sosial banyak generasi muda yang merasa malu mengakui bahwa mereka suka mendengarkan lagu berbahasa Minang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!