Turki Berpotensi Kehilangan 1 Persen PDB pada 2023 Imbas Gempa Dahsyat
📅 Jumat, 17 Feb 2023, 09:45 WIB | Oleh: Rivaldi Dani Rahmadi
Doc: AFP/AP/Bernat Armangue
Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD) menyampaikan laporan bahwa Turki dapat kehilangan 1 persen produk domestik bruto (PDB) pada 2023, akibat dari dampak ekonomi gempa bumi.
"Gempa bumi berdampak pada sebagian besar wilayah pertanian dan beberapa industri manufaktur ringan, tetapi imbas ke sektor lain masih terbatas," kata kepala ekonom EBRD Beata Javorcik, dikutkip dari Reuters, Kamis (16/2).
Bank itu menambahkan bahwa penurunan PBD Turki hingga 1 persen adalah prediksi yang masuk akal, mengingat dukungan dari upaya rekonstruksi pada akhir tahun ini.
Upaya pembangunan kembali daerah terdampak gempa di Turki akan mengimbangi dampak negatif terhadap infrastruktur dan rantai pasokan, kata Bank EBRD.
Turki dan negara tetangganya Suriah diguncang gempa mematikan pada 6 Februari. Gempa itu telah menewaskan lebih dari 41 ribu orang, dan menyebabkan jutaan jiwa membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terlebih lagi, banyak korban selamat telah kehilangan tempat tinggal mereka di tengah suhu udara yang membekukan.
Tanpa menghitung dampak gempa, EBRD telah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Turki dari 3,5 persen menjadi 3 persen pada 2023. Turki adalah penerima terbesar pendanaan dari EBRD.
EBRD menambahkan bahwa meningkatnya persyaratan pembiayaan asing dan ketidakpastian politik terkait dengan pemilihan umum pada 2023, telah menyebabkan kerentanan ekonomi yang signifikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gempa bumi telah mengacaukan rencana pemilu Turki yang akan diadakan pada Juni ini. Kekacauan itu memicu kepanikan dan perdebatan antara pemerintahan Presiden Tayyip Erdogan dan kubu oposisi mengenai kemungkinan penundaan pemilu.
"Meski depresiasi lira Turki melampaui angka inflasi sejak 2015, ekspor Turki telah tumbuh dengan cepat, karena biaya yang lebih rendah yang dibayar dalam dolar AS," tambah laporan itu.
Mata uang Turki lira mencapai rekor terendah baru pada Rabu (15/2).
Sementara itu, indeks saham Turki melonjak hampir sebesar 10 persen pada pembukaan kembali bursa pada Rabu, setelah lima hari ditutup akibat gempa.
Meski usaha pemerintah untuk menopang ekuitas tampaknya berhasil, beberapa analis memperingatkan akan risiko sentimen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!