Indonesia Tak Bisa Tumbuh jika Porsi Impor Lebih Besar
📅 Selasa, 14 Feb 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Hilirisasi kunci Indonesia bisa bebas dari jebakan negara berpendapatan menengah.
» Kebergantungan impor hambat penciptaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan.
JAKARTA - Indonesia tidak akan bisa tumbuh jika porsi impor terus mendominasi konsumsi dalam negeri, ketimbang memanfaatkan produk dalam negeri. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, di Jakarta, Senin (13/2), mengatakan jika porsi impor impor berlebihan bisa menghambat pertumbuhan industri dan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
"Refleksikan ke diri maupun unit di tempat kerja kita masing-masing untuk memakai produk dalam negeri," kata Suahasil dalam suatu seminar yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin (13/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggunaan produk dalam negeri jelas Suahasil menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru ekonomi di Indonesia. Penggunaan produk dalam negeri juga menjadi perhatian saat melakukan hilirisasi, yang juga merupakan sumber lainnya dalam pertumbuhan baru ekonomi di Tanah Air.
Jika hilirisasi dilakukan untuk barang impor, pada akhirnya uang yang dipakai pengusaha untuk membeli barang impor tidak akan berputar di dalam negeri dan tidak menyejahterakan masyarakat.
Hilirisasi, kata Suahasil, merupakan kegiatan yang kini terus digencarkan pemerintah agar Indonesia bisa maju, keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah, hingga menciptakan pendapatan per kapita yang lebih tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Semua ini tidak bisa dilakukan tanpa manufaktur," kata Suahasil.
Hal itu yang mendorong pemerintah mengeluarkan beberapa aturan untuk melarang ekspor sumber daya alam (SDA) tertentu secara mentah dengan harapan bisa diolah terlebih dahulu di Tanah Air untuk meningkatkan nilai tambah dan menumbuhkan industri.
Selain penggunaan produk dalam negeri dan hilirisasi, ia menyebutkan terdapat pula empat sumber pertumbuhan ekonomi baru lainnya, yaitu pemanfaatan ekonomi digital, pengembangan UMKM, pengembangan ekonomi hijau, dan transisi menuju energi terbarukan.
Kurang Berkualitas
Pakar sosiologi ekonomi dari Universitas Brawijaya (UB), Imron Rozuli, mengatakan impor harus ditekan serendah mungkin karena dengan tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi, konsumsi barang impor membuat pertumbuhan kurang berkualitas dan pada akhirnya akan menghambat industri dalam negeri.
"Dalam kondisi neraca perdagangan yang surplus maka pertumbuhan ekonomi menjadi indikator bekerjanya kegiatan produksi. Tapi selama ini, mayoritas aspek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masih ditopang oleh konsumsi agregat dibanding produksi dan investasi," kata Imron.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!