Belajar dari Yogyakarta: Kemiskinan dan Kebahagiaan Tak Melulu Soal Pengeluaran
📅 Senin, 13 Feb 2023, 15:24 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Alexander Michael Tjahjadi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Stephanus Eri Kusuma
Salah satu perdebatan yang akhir-akhir ini muncul yaitu mengenai tingkat kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang sulit dijelaskan dengan indikator lainnya seperti Indeks Pembangunan Manusia dan Indeks Kebahagiaan.
Sepanjang tahun lalu, kemiskinan DIY mencapai 11,34%, sedangkan rata-rata nasional sebesar 9,54%. Pada Maret 2022 saja, misalnya, kemiskinan dihitung berdasarkan batas bawah pengeluaran per bulan sebesar Rp 521.000.
Kasus DIY ini unik karena walau tercatat sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa, ia juga memegang posisi sebagai provinsi paling bahagia di pulau terpadat di Indonesia dan dunia ini. Sementara, DIY juga menduduki posisi kedua nasional setelah DKI Jakarta dalam Indeks Pembangunan Manusia, yang dikalkulasikan berdasarkan kesehatan, angka harapan hidup, pendidikan, dan standar hidup layak.
Jadi, benarkah bahwa kemiskinan bisa dihitung menggunakan pengeluaran saja?
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Philip Kotler - ahli pemasaran sekaligus profesor emeritus dari Kellog School of Management, Amerika Serikat - dalam bukunya Confronting Capitalism, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kemiskinan. Ini termasuk jumlah kelahiran yang lebih besar dari kemampuan tanggungan, tidak mampunya orang miskin untuk mengakses modal dalam berwirausaha, sampai dengan kebijakan yang elitis dalam mengatasi kemiskinan.
Namun, yang sebenarnya terjadi adalah bahwa logika perhitungan kemiskinan berfokus pada sekadar pendapatan dan pengeluaran dan tidak memasukkan dimensi kapabilitas.
Kapabilitas dan kebahagiaan
Sebaiknya Anda baca juga:
Teori tentang kapabilitas dan kebahagiaan yang diajukan salah satunya oleh Amartya Sen - pemenang Nobel, ekonom, sekaligus filsuf kenamaan asal India - menekankan pada pentingnya individu mencapai kehidupan yang mereka bisa hargai, misalnya sehat atau memiliki hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.
Dalam diskusinya, ia menekankan bahwa kebahagiaan memiliki sesuatu yang intrinsik, yakni nilai yang dihargai oleh individu tersebut. Individu tersebut kemudian mengikatkan nilai-nilai itu ke dalam elemen-elemen hidupnya.
Menurut Sen, setidaknya, kebahagiaan menjadi salah satu aspek yang bisa menjadi informasi dan preferensi individu. Ini menjadi sinergi yang bisa menghubungkan antara dimensi subjektif dan objektif dalam kesejahteraan manusia, dan salah satu metriks untuk mengukur kapabilitas.
Dalam pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai kekurangan kapabilitas untuk menjalani kehidupan yang baik, dan 'pembangunan' dipahami sebagai perluasan kapabilitas.
Melihat kasus Yogyakarta, dikotomi penduduk miskin dan tidak miskin berdasarkan pengeluaran adalah hal yang salah. Alasannya, dua tipe konsumsi kelasnya berbeda.
Merujuk kepada laporan Bank Indonesia, pengeluaran konsumsi merupakan komponen terbesar pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta. Masalahnya, data tersebut tersebut menonjolkan bagaimana konsumsi masyarakat menengah-atas menjadi pendorongnya, terutama terjadi di sektor perhotelan, transportasi, dan pakaian. Ini membuat kelas bawah tidak terwakilkan dalam analisis, yang membuat pola konsumsi mereka tidak terlihat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!