Banyak Bangunan Ambruk Seperti 'Pancake' Saat Gempa di Turki, Ini Penjelasan Ahli
📅 Kamis, 09 Feb 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPada 1999, satu gempa besar di dekat Izmit menewaskan sekitar 17.000 orang dan sebanyak 20.000 bangunan runtuh.
Setelah gempa tahun 2011 yang menewaskan ratusan orang, Perdana Menteri Turki saat itu, Recep Tayyip Erdogan, menyalahkan konstruksi buruk untuk jumlah kematian yang tinggi. Dia mengatakan, "Pemerintah kota, pemgembang dan pengawas sekarang seharusnya melihat bahwa kelalaian mereka sama dengan pembunuhan."
Rekonstruksi
Meski otoritas Turki tahu banyak bangunan tidak tahan gempa, masalah ini masih sulit dipecahkan. Banyak bangunan sudah berdiri, dan ongkos penguatan seismik mungkin mahal atau tidak diprioritaskan ketimbang tantangan sosio-ekonomi lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, rekonstruksi setelah gempa memberikan peluang pendirian kembali bangunan yang lebih aman. Pada 2019, Turki mengadopsi peraturan baru untuk memastikan bangunan lebih siap menghadapi guncangan.
Meski aturan baru ini disambut baik, masih harus dilihat apakah ketentuan tersebut akan mengarah pada peningkatan kualitas bangunan yang sesungguhnya.
Selain hilangnya nyawa dan kerusakan infrastruktur, kedua gempa bumi tersebut kemungkinan besar menyebabkan banyak dampak lingkungan, seperti permukaan tanah yang pecah, tanah yang mencair, dan tanah longsor. Efek ini dapat membuat banyak area menjadi tidak aman untuk dibangun kembali. Karena itu, upaya rekonstruksi juga harus mencakup keputusan perencanaan tempat yang dapat dibangun, untuk menurunkan risiko di masa depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk saat ini, gempa susulan terus mengguncang wilayah tersebut. Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Setelah debu mereda, rekonstruksi akan dimulai. Akankah kita melihat bangunan yang lebih kuat untuk menahan gempa berikutnya, atau kurang lebih sama saja?![]()
Mark Quigley, Associate Professor of Earthquake Science, The University of Melbourne
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!