Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ciptakan Gerakan Antikorupsi 1.000 Mata Awasi 1 Koruptor

📅 Jumat, 03 Feb 2023, 00:04 WIB | Oleh:

"Petani kaya itu temen mereka. Yang mengatakan petani tidak miskin dia tidak pernah jadi petani atau teman dia petani yang kaya. Bagaimana nggak miskin kalau gagal panen sekali langsung bangkrut. Kalau bangkrut harus jual tanah, yang beli orang kaya. Kemudian dia jadi buruh tani. Berarti dia harus kasih hasilnya 40 persen ke pemilik tanah. Sebagai pemilik lahan saja dengan 100 persen hasil buat dia, tidak sanggup hidup, apalagi sekarang hanya dengan 60 persen," paparnya.

Sulit Bersaing

Dengan perilaku birokrasi yang korup ditambah tekanan dari eksternal yaitu inflasi dan kenaikan suku bunga global, maka mau tidak mau Bank Indonesia (BI) tidak punya pilihan harus menaikkan suku bunga acuan.

Akibatnya, rakyat tambah miskin karena daya beli semakin menurun, pengangguran bertambah karena pabrik yang padat karya semuanya tutup. "Mana mungkin bisa bersaing dengan Tiongkok, Vietnam, dan India. Kalau bersaing gaji buruh rendah itu cara berfikir primitif. Gaji buruh harus naik bukan karena inflasi, tapi karena nilai tambah barang yang dikerjakan. Nilai tambah tidak ada, karena orang tidak mau investasi akibat indeks korupsi yang tinggi," katanya.

Tesla saja sudah membantah mau investasi ke Indonesia. Pemerintah sebenarnya tidak perlu memohon ke investor kalau kebenaran dan kepastian hukum ditingkatkan, mereka akan datang dengan sendirinya.

Belum lagi kata Aditya, transisi politik membuat ketidakpastian tinggi dari banyak faktor yang tidak bisa diperhitungkan secara bisnis. "Jalan keluarnya untuk saat ini seribu mata rakyat mengawasi satu koruptor, supaya tidak ada lagi Kepala Satpol PP yang punya harta puluhan miliar," katanya.

Sebab, yang selalu dikorbankan yang kecil. Padahal stabilitas ekonomi nasional dibangun dari bawah. Dari krisis ke krisis, sudah terbukti rakyat kecil, buruh, UMKM yang mampu bertahan.

"Kalau tidak dibela habis-habisan, kita tidak bisa maju selangkah. Dari CPI kelihatan kalau kita mundur. Lihat saja indeks tertinggi negara makmur, indeks terendah pasti negara gagal," pungkasnya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo merespons penurunan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perception Index (CPI) yang diumumkan Transparency International Indonesia (TII) pada pekan ini. Pemerintah akan menjadikan penurunan itu sebagai bahan evaluasi.

"Itu akan menjadi evaluasi dan koreksi kita bersama," kata Presiden Jokowi seusai mengunjungi Pasar Baturiti, Tabanan, Bali, Kamis (2/2).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Ekonomi
Sompo Indonesia selenggarak...
Luar Negeri
Dua Kapal Tanker Minyak Dis...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.