Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Negara Barat Jor-joran Bantu Ukraina, Myanmar Diabaikan, Kenapa?

📅 Kamis, 02 Feb 2023, 13:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Negara Barat Jor-joran Bantu Ukraina, Myanmar Diabaikan, Kenapa? Doc: Stringer/EPA
Ket. Rakyat Myanmar melakukan aksi protes.

Nicholas Farrelly, University of Tasmania dan Adam Simpson, University of South Australia

Dua tahun setelah kudeta Myanmar pada 1 Februari 2021, kuatnya dan berkembangnya perlawanan militer di negara tersebut hampir tidak mendapat perhatian dari luar negeri.

Kelompok oposisi pro-demokrasi, yang digawangi oleh Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar (National Unity Government/NUG) - terdiri dari berbagai kelompok, tentara, milisi, dan individu yang berbeda - kesulitan untuk menarik perhatian global, bahkan walaupun keberhasilannya di medan perang cukup signifikan.

Yang paling menonjol adalah permohonan bantuan senjata dari kelompok oposisi tersebut kepada negara-negara Barat guna membantu melawan kebrutalan yang dilakukan oleh junta militer. Namun permohonan tersebut diabaikan.

Tanggapan negara Barat terhadap perang Rusia-Ukraina sangat berbeda dibanding terhadap konflik Myanmar. Kedua konflik ini memang tidak serupa, namun sangat mengejutkan jika melihat betapa Ukraina telah sangat menyita perhatian komunitas internasional, sementara Myanmar hampir sepenuhnya terabaikan.

Tidak adanya tokoh kharismatik dalam perang

Mungkin salah satu penyebab kurang populernya konflik Myanmar berkaitan dengan ada tidaknya seorang pemimpin yang bisa menjadi ikon. Sejak sosok pemimpinnya, Aung San Suu Kyi, digulingkan dan tokoh publik lainnya dipenjara, pasukan perlawanan Myanmar kini tidak memiliki tokoh publik yang dapat dikenali oleh negara lain.

NUG memiliki seorang penjabat presiden, Duwa Lashi La, yang sesekali muncul di YouTube dan media sosial. Ia memiliki reputasi yang kuat di antara etnis Kachin di bagian utara Myanmar, namun di panggung global, bahkan nasional, ia hampir tidak dikenali.

Ini jauh berbeda dengan situasi di Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah bertransformasi menjadi seorang komandan selama masa perang dan itu membuat dirinya memiliki profil global yang sangat berpengaruh. Ia telah mampu memberikan pidato, yang ditulis dengan hati-hati, di depan parlemen asing. Pidatonya membangkitkan semangat, baik untuk rakyat Ukraina maupun pada pertemuan internasional penting.

Upayanya untuk terus-menerus memfokuskan kembali perhatian pada fase pertempuran di Ukraina telah menginspirasi rakyatnya sendiri, dan membuat bendera Ukraina menjadi simbol perlawanan yang kuat dalam menghadapi tirani.

Kurangnya narasi sederhana

Ukraina juga telah menguasai medan perang di dunia digital. Para pemimpinnya menyederhanakan narasi dan punya cara yang ampuh untuk menggambarkan bagaimana perjuangan "kebaikan" melawan "kejahatan", yang membuat negara-negara demokrasi Barat merasa tertuntut untuk menawarkan dukungan simbolis dan material.

Sementara di Myanmar, kompleksitas yang mencakup etnis, linguistik, geografis, ideologis, sejarah, dan banyak lagi telah membuat narasi semacam itu jauh lebih sulit untuk dilakukan dan dipertahankan.

Kejahatan genosida terhadap etnis Rohingya pada 2017, yang terjadi di bawah kepemimpinan Suu Kyi, juga telah mengotori kisah yang sederhana tentang seorang peraih Nobel Perdamaian yang berhadapan dengan militer Myanmar yang brutal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Aldila Tak Mampu Menerobos Semifinal WTA Ningbo

23 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Aldila Tak Mampu Menerobos ...

El Clasico Jadi Laga Superman Kontra Batman

30 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
El Clasico Jadi Laga Superm...

Perlu Diperbanyak Kontes Film Pendek Guna Dorong Kreativitas

38 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perlu Diperbanyak Kontes Fi...
Daerah
Bantul Raih TPAKD Award 202...
Megapolitan
Jakarta Kota Sinema Makin K...
Megapolitan
Usaha Pembangunan Jaya Jika...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.