Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Angka Kelahiran di Jepang yang Terus Turun Sangat Mengkhawatirkan

📅 Rabu, 25 Jan 2023, 00:00 WIB | Oleh:
Angka Kelahiran di Jepang yang Terus Turun Sangat Mengkhawatirkan Doc: ISTIMEWA
Ket. PIDATO KEBIJAKAN I PM Jepang, Fumio Kishida, menyampaikan pidato kebijakannya pada hari pertama sesi biasa di majelis rendah parlemen di Tokyo, Senin (23/1).

TOKYO - Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, pada Senin (23/1), menyampaikan kekhawatiran tentang angka kelahiran negara itu yang terus menurun.

"Sekarang atau tidak sama sekali terkait kebijakan mengenai kelahiran dan pengasuhan anak. Ini adalah masalah yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi," kata Kishida dalam pidato menandai sesi parlemen yang baru.

"Jumlah kelahiran turun di bawah 800.000 tahun lalu. Jepang berada di ambang apakah kita dapat terus berfungsi sebagai masyarakat," kata Kishida dikutip dari National Review.

Sebagai perspektif, Jepang mengalami hampir dua juta kelahiran per tahun sepanjang 1970-an.

Meskipun negara kepulauan Asia ini memiliki populasi sekitar 125 juta jiwa, piramida demografisnya dengan cepat berubah menjadi abu-abu. Hanya Monaco, negara kota di French Riviera, yang memiliki proporsi penduduk berusia 65 tahun ke atas yang lebih tinggi.

Meningkatnya biaya hidup dan imigrasi yang rendah telah menghambat kemampuan Jepang untuk meningkatkan angka kelahirannya yang tertinggal. Hampir 3 persen populasi negara itu lahir di luar negeri, dibandingkan dengan lebih dari seperempat orang Amerika.

Dibentuk Badan Baru

Kishida pada Senin berjanji untuk menggandakan pengeluaran yang terkait dengan inisiatif terkait anak dan mengumumkan pembentukan badan pemerintah baru yang bertugas menangani masalah tersebut.

"Memfokuskan perhatian pada kebijakan tentang anak dan pengasuhan anak adalah masalah yang tidak bisa menunggu dan tidak bisa ditunda," ujarnya.

Demografi menggunakan pengukuran pengganti atau tingkat kesuburan, jumlah rata-rata anak yang lahir dari setiap wanita, untuk menilai kesehatan suatu masyarakat. Ketika tingkat kesuburan turun di bawah 2,1 maka masyarakat mulai menyusut.

Pada 2020, Jepang memiliki tingkat kesuburan 1,34. Pada tahun yang sama, tim peneliti memproyeksikan di Lancet bahwa populasi Jepang akan menyusut hampir di atas 50 juta pada akhir abad ini.

Jepang adalah salah satu dari daftar negara-negara Asia Timur yang terus berkembang yang diperkirakan akan menghadapi hambatan demografis yang keras selama beberapa dekade mendatang.

Pekan lalu, pemerintah Tiongkok menerbitkan data demografis yang menunjukkan populasi negara itu telah menurun dibandingkan tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya dalam enam dekade. Berita itu mengejutkan banyak akademisi yang memproyeksikan Tiongkok tidak akan mengalami penurunan drastis seperti itu selama satu dekade lagi.

"Saya kira tidak ada satu negara pun yang tingkat kesuburannya serendah Tiongkok dan kemudian bangkit kembali ke tingkat penggantian," kata pakar demografi di University of California, Philip O'Keefe kepada New York Times.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.