Catalonia, Bangsa Tanpa Negara
📅 Rabu, 09 Nov 2022, 00:00 WIB | Oleh: Haryo BronoKemudian republik diproklamasikan di Barcelona, serta di kota-kota besar Spanyol, karena Partai Republik yang bersekutu dengan Sosialis memenangkan pemilihan ini. Raja Alfonso XIII meninggalkan negara itu. Pemerintah daerah otonom, La Generalitat de Catalunya, dibentuk.
Pemerintah itu bertugas menyusun undang-undang otonomi yang harus disetujui oleh rakyat Catalonia dan kemudian oleh parlemen yang duduk di Madrid. Undang-undang tersebut diadopsi pada tahun 1932. Pada Februari 1936, Front Populer, El Frente Popular, memenangkan pemilihan legislatif. "Pemberontakan Nasional" memutuskan untuk mengakhiri upaya "revolusioner", Perang Saudara dimulai pada 18 Juli 1936 dan tidak akan berakhir hingga 29 Maret 1939.
Pada akhir tahun 1937, pemerintah Spanyol pindah ke Barcelona. Setelah Pertempuran Ebro yang berlangsung selama 4 bulan, jalan menuju Catalonia dibuka bagi kaum Franco yang memasuki Barcelona pada 26 Januari 1939.
Selama periode ini, otonomi Catalonia tiba-tiba menghilang. Catalonia hanyalah sebuah provinsi seperti yang lainnya. Bahkan dilarang berbicara dalam bahasa Catalan. Menjelang akhir tahun 1950-an, para intelektual dan seniman Catalonia mulai mengaktifkan kembali gerakan Catalan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedikit demi sedikit, larangan bahasa Catalan dilonggarkan. Akhirnya, gerakan protes Catalan menjadi dasar kritik terhadap rezim Franco.
Pada 20 November 1975, Franco meninggal. Jalan demokratisasi kemudian dibuka oleh Pangeran Juan Carlos de Bourbon yang menjadi Raja Spanyol. Dalam waktu singkat, ia menyingkirkan kaum Francois konservatif dari panggung politik dan mengubah negara itu menjadi demokrasi modern.
Pada 1979, Catalonia dan warga Basque mendapatkan kembali status otonomi mereka. Catalan menjadi bahasa resmi di balai kota dan sekolah. Dengan demikian, sejarah bangsa itu ditandai dengan perjuangan melawan sentralisasi kekuasaan Madrid, terutama sejak abad ke-17.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keinginan untuk kemerdekaan Catalonia didukung oleh pertumbuhan ekonomi dan kemajuan mereka dibandingkan dengan sisa Semenanjung dan sangat didorong oleh represi periode Franco, yang dapat menjelaskan kekerasan nada slogan-slogan tertentu yang mengklaim cukup sederhana kemerdekaan Catalonia.
Pada 1 Oktober 2017, pemerintah Catalonia mengumumkan 90 persen dari 2,26 juta orang yang memberikan suara dalam referendum kemerdekaan, memilih untuk merdeka dari Spanyol. Jumlah itu mewakili sekitar 42,3 persen dari jumlah total pemilih Catalonia yang mencapai 5,34 juta. Namun referendum yang dilakukan pemerintah Catalonia tidak pernah diakui Spanyol dan dunia. hay/N-3
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!