Pemerintah Diminta Antisipasi Inflasi dengan Mengelola Psikologi Pasar
📅 Selasa, 19 Jul 2022, 00:02 WIB | Oleh: Eko S
Doc: ROSLAN RAHMAN / AFP
JAKARTA - Pemerintah diminta mengantisipasi kenaikan inflasi pada tahun ini dengan mengelola dampak psikologis pasar sehingga tidak terjadi kepanikan (panic buying) yang berpotensi makin memicu lonjakan harga.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, mengatakan langkah pemerintah dalam beberapa tahun sebelumnya harus diakui berhasil menjaga inflasi di level 3-4 persen. Kalau tiba-tiba pada tahun ini naik hingga 5,5 sampai 6 persen, tentu saja akan mengakibatkan dampak psikologi yang cukup berat.
"Jagung naik, gandum naik, nanti kan peternak terdampak. Telur, daging ayam, nah soal-soal seperti ini jangan sampai jadi gejolak, tidak ada demo peternak. Pemerintah harus mengelola itu," kata Susilo.
Dampak psikologis bahwa pemerintah dan BI telah gagal mengelola inflasi akan berakibat pada keputusan-keputusan buruk di pasar sehingga akan makin memperparah dampak.
"Kita tahu ada faktor ekternal, nah itu bagaimana rantai pasok internasionalnya bisa diatasi oleh negara. Nah, di internal ya faktor psikologis yang paling penting, dan menjaga harga energi tidak naik," kata Susilo.
Sebaiknya Anda baca juga:
Subsidi Energi
Ekonom dan Direktur Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah, dalam kesempatan terpisah memprediksi inflasi di Indonesia akan terjaga di kisaran 4,5 persen sampai 5,5 persen secara tahunan, dengan catatan pemerintah tidak menaikkan harga pertalite, gas 3 kg, dan listrik 900 VA.
"Kalau pemerintah menaikkan harga pertalite, gas 3 kg, dan listrik 900 VA, inflasi akan lebih tinggi di atas 6 persen," katanya kepada Antara, di Jakarta, Senin (18/7).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, pemerintah sejauh ini sudah berupaya menjaga inflasi dengan mempertahankan subsidi untuk komoditas energi yang harganya sudah naik di tingkat global, meskipun kebijakan tersebut meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Bank Indonesia juga menahan inflasi dengan melakukan pengetatan likuiditas yaitu dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM), walaupun masih menahan suku bunga acuan," katanya.
Bank sentral, katanya, diperkirakan akan segera menaikkan suku bunga BI 7 Day Reverse Repo Rate ketika inflasi sudah melonjak naik.
"Kalau melihat stannya BI sekarang ini saya perkirakan maksimal 50 basis poin (bps) sampai akhir tahun 2022," kata Piter.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada Juni 2022 mencapai 4,35 persen secara tahunan dengan inflasi inti sebesar 2,63 persen.
Sementara secara bulanan inflasi pada Juni 2022 mencapai 0,61 persen dengan komoditas penyumbang utama, yaitu cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!