Energi Kotor, Sudah Mahal Juga Mematikan
📅 Jumat, 30 Jul 2021, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiMeski nikel Indonesia murah, Tesla tidak mau membeli karena Tesla tidak mau dikecam dunia. Bisnis mobil lisrtrik yang Tesla jalankan adalah bisnis energi bersih.
"Ini adalah pelajaran bahwa pemerintah jangan melihat keuntungan jangka pendek. Indonesia bukan hanya tidak mengurangi energi kotor dan polutif, tetapi malah menambah dengan terus membangun PLTU baru. Ini bukan tidak bisa tetapi kita tidak mau mengurangi energi kotor. Ini jelas merugikan karena hanya demi kepentingan bisnis sesaat, kepentingan primitif, akibatnya kita tertinggal bukan hanya dari ekonomi, tetapi juga di bidang teknologi. Inilah biaya yang sangat mahal yang harus dibayar karena Indonesia tidak serius membangun EBT," katanya.
Memang aneh, Indonesia yang hanya memiliki tiga persen cadangan batu bara dunia, namun eksploitasi batu bara terus-menerus dilakukan. Saat ini, Indonesia menjadi negara nomor satu pengekspor batu bara di dunia. Ironisnya, sekitar 20 persen rakyat Indonesia belum bisa mengakses listrik dari negara. Mereka adalah rakyat Indonesia yang tinggal di pedalaman, tempat-tempat terpencil, dan ratusan pulau-pulau kecil di pelosok Nusantara.

Sebaiknya Anda baca juga:
Mematikan
Di samping terbukti mahal dari segi biaya, menurutnya energi kotor juga mematikan. Mematikan potensi atau prospek investasi industri. Ujung-ujungnya mematikan prospek ekonomi Indonesia. Investor enggan masuk karena Indonesia tidak serius mengembangkan EBT. Ini kan juga mematikan masa depan Indonesia karena daya saing Indonesia menjadi lemah.
Selain itu, energi kotor yang terus kita kembangkan benar-benar mematikan rakyat dan penduduk di sekitar pembangkit energi. Hasil riset Global Alliance on Health and Pollution (GAHP) menyebutkan, Indonesia menjadi negara keempat terbesar penyumbang kematian akibat polusi. Riset tersebut mencatat ada 232,9 ribu kematian di Indonesia akibat polusi pada 2017 dan 123,7 ribu orang meninggal akibat polusi udara.
Sebaiknya Anda baca juga:
n ers/YK/SB
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!